Thursday, March 30, 2006
Arti Cinta..
senantiasa mendo'akannya walaupun
dia tidak berada disisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan,
dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat.
Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan
sekeping hati pada kita ?
Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi
hati pada seseorang untuk kita mencarinya.
Itulah Cinta ...
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal
jika kamu masih mau mencoba !!!
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih
merasa sanggup !!!
Jangan sesekali mengatakan kamu tidak
mencintainya lagi, jika kamu masih
tidak dapat melupakannya !!!
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang
tersayang sehingga dia meninggal dunia
lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan
kata-kata cinta itu pada pusaranya.
Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang
tersimpan dibenakmu itu sekarang
selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan
bercinta dengan orang yang salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat,
kita harus mengerti bagaimana
berterimakasih atas karunia tersebut.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang
tidak mencintaimu, tetapi lebih
menyakitkan adalah mencintai seseorang dan
kamu tidak pernah memiliki
keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.
Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki
hati seorang gadis,
ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar
merah. Kadangkala kamu
mencium harum mawar tersebut, tetapi
kadangkala kamu terasa bisa duri mawar
itu menusuk jari.
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia
sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya.
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu
benar-benar mencintainya
setulus hati.
Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang
kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan
tidak merubahnya menjadi gambaran
yang kamu inginkan.
Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri
yang kamu temukan didalam dirinya.
Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan
jatuh cinta. Namun apabila sampai
saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan
jangan biarkan dia pergi
dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan
dari mulut kemulut tetapi
cinta adalah
anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia
dapat menilai kesuciannya.
Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga
memang mudah. Tapi untuk dicintai
oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar
diperoleh.
Cinta adalah keabadian... dan kenangan adalah
hal terindah yang pernah dimiliki.
Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak
seorangpun pandai menilai cinta
karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa
dilihat oleh kasat mata,
sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui
hati dan perasaan.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan
batu, membangkitkan yang mati dan
meniupkan kehidupan padanya serta
membuat budak menjadi pemimpin.
Inilah dahsyatnya cinta !!!
By : Buddy
#= NASIONALISM =#
" Putera dan pemimpin yang jujur dan selalu hidup dengan tanggung jawab yang sebenarnya, selalu mengukur fikiran dan tindakannya dengan nilai-nilai yang dijadikannya pedoman kehidupannya serta perjuangannya."
29 September 1952
( Sutan Sjahrir)
" Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanam, semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita, apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata."
" Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasadku ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, sipapun lawan yang aku hadapi."
(Panglima Besar Jenderal Sudirman)
" Pengambilan keputusan terbaik pada umumnya dihasilkan oleh kepala dingin, yang mampu menangkap inspirasi akurat dan menilai sesuatu dengan tepat serta tidak mudah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak menggembirakan atau sesuatu yang menyedihkan."
(Napoleon Bonaparte)
" Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya,memakan roti dari gandum yang tidak ia panen dan meminum susu yang ia tidak memerasnya. Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan, dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah."
(Khalil Gibran)
By : Buddy
MODERNITAS, ISLAM DAN KAUM MUSLIMIN
"… kami menghadapi suatu kenyataan yang pahit, tragedi yang harus kami ratapi, ialah: mengapa kami harus berhadapan dengan umat Islam sendiri, yakni orang yang mengaku Islam tapi menolak hukum Islam?" (KH. M. Isa Anshary, Kami Menuju Republik Indonesia Berdasarkan Islam, Pidato Pada Sidang Konstituante Tahun 1957)
Masuknya modernitas ke dunia Islam melalui suatu proses apa yang disebut “serbuan” (l’irruption) atau melalui kekerasan yang bersifat militer. Untuk kali pertama hal itu terjadi melalui sejarah, yakni ketika ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir sekitar 1798-1801. Peristiwa itu tidak saja bermakna penaklukan militer tetapi juga eksplorasi ilmiah. Sebab selain membawa militer, Napoleon juga membawa serta 500 ilmuwan ke Mesir. Demikianlah sejak Mesir berhasil ditaklukkan Napoleon-yang kemudian merambah ke wilayah lain-kaum Muslimin disadarkan akan kelemahannya selama ini. Bersamaan dengan ekspedisi Napoleon itu, negara-negara Eropa yang lain seperti Belanda, Inggris, Portugal dan Italia juga melakukan kolonialisasi di berbagai belahan dunia Islam. Negara-negara Eropa itu tidak sekedar melakukan kolonialisasi tetapi lebih dari itu mereka juga membawa misi untuk menancapkan mega proyek yang disebut "modernisasi", berupa paket besar dari Barat yang di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, agama bahkan budaya. Akibat modernisasi yang kadang-kadang terlihat sengaja dipaksakan itu, telah menimbulkan kontradiksi-kontradiksi di dunia Islam khususnya Timur Tengah.
Gambaran situasi kontradiktif itu dilukiskan secara baik oleh Daniel Lerner sebagai berikut:
"Di Turki seorang pedagang bergairah menginginkan kehidupan kota yang maju, sementara harus tetap dalam kehidupan tradisional di desanya. Seorang petani di Iran dengan bangga mempunyai satu stel jas karena telah berhasil menjadi usahawan tetapi jarang sekali mengenakan stelan itu di luar rumah karena khawatir menimbulkan kecemburuan sosial. Di Jordania, kepala suku Beduin yang buta huruf menganut hukum sukunya di padang pasir tetapi merencanakan untuk mengirimkan anak-anaknya ke luar negeri. Di Libanon, seorang Muslimah terpelajar tertarik pada film tetapi takut pada orang tuanya yang ortodoks. Di Syiria, seorang juru tulis yang kurang berpendidikan berambisi menjadi seorang Tito. Di Mesir, seorang Insinyur muda yang telah memakan daging babi di negeri Barat kemudian menyatakan taubatnya dan masuk ke Ikhwanul Muslimin." (Daniel Lerner, 1983).
Aliran-aliran pemikiran keagamaan ini satu sama lain berbeda respon dan pendapatnya terhadap isu modernitas. Aliran Fundamentalisme Islam misalnya memandang modernitas lebih merupakan bid’ah yang sewaktu-waktu dapat mengancam otentisitas dan orisinalitas ajaran Islam. Sehingga dapatlah dimengerti bila mana reaksi yang muncul dari aliran pemikiran keagamaan ini berwujud ide perlunya kembali ke Islam yang asli dan murni (salafashalah). Praktik-praktik syari’ah yang dipandang merupakan sunnah Salaf al-Shalih, mendapat tekanan khusus dari program-program keagamaan aliran pemikiran keagamaan jenis ini.
Ini berbeda misalnya dengan aliran Neo Modernisme Islam. Neo Modernisme Islam kelihatan lebih tertarik kepada isu perlunya upaya revitalisasi kekayaan tradisi intelektual Islam dalam menjawab persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh modernitas. Tetapi pada saat yang sama berusaha untuk tidak terjebak kepada situasi antagonistik antara Islam dan Modernitas. Neo Modernisme Islam berpendapat, kekayaan tradisi intelektual Islam klasik bila digali, akan memberikan jalan yang mulus dalam memecahkan problem kejumudan umat Islam dan dapat memberikan terobosan yang tidak konfrontatif dalam pertentangannya dengan modernitas. Itulah mengapa kemudian, bila khazanah-khazanah intelektual Islam klasik menjadi objek kajian favorit bagi aliran pemikiran keagamaan ini.
Sementara Post Tradisionalisme Islam berbeda lagi pola responnya terhadap modernitas. Sekilas bila tidak diamati secara jeli, kesan yang timbul pada aliran Post Tradisionalisme Islam adalah tidak lebih dari pada Modernisme Islam awal yang sinis terhadap tradisi Islam. Padahal sebetulnya, masalahnya tidak sesimpel itu. Post Tradisionalisme Islam, selain giat dalam usaha revitalisasi tradisi Islam, tetapi juga sangat kritis terhadap tradisi itu sendiri. Bahkan bagi aliran pemikiran keagamaan ini merupakan hal yang sah mendekonstruksi tradisi, sekalipun tradisi itu dipandang sakral. Boleh jadi aliran ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari metodologi Neo Modernisme Islam.
Perbedaan-perbedaan pemikiran keagamaan internal Islam dalam menjawab tantangan modernitas yang memang kebetulan datang dari luar (eksternal) dirinya itu, tidak sedikit memberikan pengaruh pada perbedaan sosiologis dan teologis komunitasnya masing-masing. Hal ini misalnya dapat diamati pada situasi keagamaan generasi muda Muslim di tanah air sekarang ini. Sementara yang terpengaruh pada aliran pemikiran keagamaan tertentu, sebutlah Post Tradisionalisme Islam yang juga sama-sama diimpor itu, membuat langgam keagamaan komunitasnya menurut aliran pemikiran yang mereka apresiasi. Demikian pun yang disebut dengan aliran Fundamentalisme Islam-istilah ini hanya untuk memudahkan pembedaan (distingsi) secara sosiologis dan teologis saja, sama sekali tidak berpretensi politis-juga membuat langgam keagamaan komunitasnya menurut aliran pemikiran yang mereka apresiasi. Sehingga yang terjadi kemudian adalah melebarnya jarak antar komunitas Islam, baik secara sosiologis, politis bahkan teologis. Apa yang kita saksikan pada kasus somasi iklan "Islam Warna-Warni" dan "Kondom" di televisi swasta beberapa tempo yang lalu adalah manifestasi jarak yang lebar-baik jarak sosiologis, politis maupun teologis-antar komunitas Islam yang berujung pada "konfrontasi"-walaupun masih pada level yang lunak-yang seharusnya tidak perlu terjadi..
Untuk mengantisipasi dan mengeliminir ekses yang lebih lanjut dari situasi keagamaan internal Islam yang tidak sehat ini, maka seharusnya digalakkan dialog ke dalam agar menghasilkan situasi keagamaan yang kondusif dan berwajah persaudaraan. Pengalaman pahit karena perbedaan mazhab dan aliran teologis dalam sejarah peradaban Islam di masa silam, tidak perlu diulangi kembali di abad yang penuh teka-teki ini. Agenda pluralisme ke dalam internal Islam tidak kalah pentingnya dengan agenda pluralisme ke luar yang digembar-gemborkan para intelektual kita tersebut. Akhir kalam, wallahua'lam bisshawab.
By : Buddy
Drama itu berjudul kapitalisme.....
Begitupun yang terjadi pada sistem masyarakat hari ini. Drama penghisapan manusia terhadap manusia sudah sejak lama berlangsung dipentaskan. Sang sutradara dengan jenius merancang drama tanpa banyak yang menyadarinya. Mereka mengira bahwa mereka sedang menonton saja tanpa terlibat sebagai pemain. Padahal sesungguhnya mereka sedang memainkan peran yang ada kalanya sebagai figuran, korban, pengganti, atau bahkan sebagai pemain utama.
Drama penghisapan manusia terhadap manusia ini akan selamanya berlangsung, jika manusia itu sendiri tidak menyadari bahwa drama itu sedang berlangsung di depan mata mereka dan sedang mereka perankan. Yang telah menyadari bahwa mereka sedang memainkan peran dalam drama tragis ini pun tidak akan sanggup menghentikan pagelaran drama tersebut, bila hanya sampai pada sebatas insyaf saja tanpa ada aksi untuk menghancurkan seluruh penopang terjadinya pagelaran drama tersebut. Yang memerankan sebagai si korban hanya akan sia-sia saja jika jalan keluarnya hanya berjuang keluar dari peran sebagai si korban untuk menjadi pemeran yang lebih enak dan menguntungkan. Yang demikian itu ibarat hanya bertukar peran saja, sementara drama terus saja berlanjut. Sama halnya mengganti pemain dengan pemain lain, yang tentu saja tidak akan menghentikan jalannya drama atau akan merusak skenario.
Drama yang berjudul Penghisapan Manusia Terhadap Manusia ini hanya bisa dihentikan jika si pemain yang paling menderita dalam drama tersebut bersatu untuk keluar dari pagelaran drama yang telah menyiksa mereka selama ratusan tahun tersebut, dan menghancurkan skenario, pendukung-pendukungnya, merobohkan pentasnya, terutama memenggal kepala sang sutradara dan penulis skenario tanpa harus menghiraukan rasa belas kasihan, karena mereka sendiri (sutradara, penulis skenario dan pemain-pemain inti) tidak pernah mempunyai rasa belas kasihan kepada mereka yang menjadi korban keganasan dari skenario jahat mereka.
Tetapi sebelum si korban keluar dari drama tersebut, sudah sejak dini disiapkan drama alternatif yang tidak lagi berjiwa kejam seperti sebelumnya sebagai tempat penyaluran dari mereka-mereka yang eksodus dari drama jahat tersebut. Mereka harus mempunyai tempat penyaluran yang lebih baik untuk mengangkat harkat dan martabat kemanusian mereka. Di sinilah sesungguhnya tugas dan tanggungjawab utama para intelektual yang berhati nurani dan yang bermoral, bukan malah menjadi kucing peliharaan para pemilik kekuasaan.
* * *
Demikian pula adanya jika kita tarik dengan keadaan yang menghajar kita hari ini. Drama lama tetap saja berlangsung tanpa diketahui hingga episode ke berapa mesti berakhir. Seakan-akan semua orang pasrah saja dengan “takdir” yang menghajar mereka. Kalaupun ada yang menjerit dan meronta-ronta terhadap dekapan kuat Penguasa yang menyesakkan rongga napas mereka, itu pun hanya sebatas jeritan dan rontaan saja yang tidak ada artinya sama sekali bagi si Penguasa. Secuil pun tak ada hasilnya untuk mengendorkan dekapan kuat lengan-lengan kokoh si Penguasa.
Pemeran penghisap dan yang dihisap boleh saja gonta-ganti setiap saat. Kadang diperankan si kulit putih, si kulit hitam, si kulit coklat, Cina, Eropa, Arab, Jawa, Sunda, Batak, Kristen, Budha, Muslim, Syi'ah, Sunni, anggota NU, Muhammadiyah, Darul Arqam, alumni HMI, sipil, militer, dan seterusnya. Kalau jalan ceritanya tetap tidak berubah, maka hasil ceritanya pun tidak berubah, meskipun pemainnya digantikan oleh si Idealis dari kampung rakyat yang membawa segudang obsesi perubahan. Apalah yang dapat diperbuat oleh si Idealis, kalau perannya sudah ditentukan sejak awal oleh sang sutradara dalam drama tersebut. Alur cerita yang terprogram dalam drama itu sendirilah yang menentukan perannya dalam drama kehidupan yang mengenaskan tersebut. Maka sudah barang pasti, drama penghisapan manusia terhadap manusia pun akan terus berlanjut sampai yang dihisap habis dan punah dari tempatnya. Kalau sudah demikian, barulah berakhir drama kemanusian tersebut. Oh, demikian pahitkah keadaan yang menimpa anak manusia. Wallahua'lam bisshawab.
Wednesday, March 22, 2006
Bush's Instinct
Privacy and Civil Liberties Not Bush Priorities
Tuesday, March 14, 2006
Pornografi Bukan Seni
Saat ini, perusahaan media telah berlindung atas nama seni. Mereka telah berhasil melakukan aktivitas yang dalam bahasa kaum posmodern disebut "Komoditas Estetika". Menjadikan sesuatu yang pada dasarnya bukan seni, tetapi dibuat seolah-olah menjadi seni, itu semua berujung pada keuntungan material (uang). Wajah nyatanya, mereka memproduksi tabloid-tabloid yang berisi gambar-gambar wanita telanjang. Bagi yang tertarik disiplin "Cultural Studies", sepertinya, mengkaji fenomena itu sangat mengasyikkan ditambah daya pikat semiotika sebagai pisau penjelasnya. Silakan mencobanya kalau punya banyak waktu.
Tapi, ada satu hal yang lebih mendesak yaitu pertarungan ide-ide dan batasan pornografi. Kita harus memangkan wacana ini sebelum mendesakkannya melalui jalur hukum. Saya percaya, solusi terbaik dari masalah pornografi ini adalah payung hukum. Perjuangan melalui jalur ini sepertinya lebih efektif dibandingkan kita harus merazia setiap hari tabloid dan majalah porno yang sudah terlanjur beredar dipasaran. Akan menguras energi bukan !. Makanya, payung hukumlah solusinya. Kampanye tolak media porno tetap perlu, tapi solusi hukum tak kalah pentingnya.
Kini, RUU Anti Pornografi yang sedang digodok di Senayan. Ini menjadi momentum kita untuk berjuang. Bagi yang diluar sistem, silakan melakukan aksi aksi menentang pornografi, menulis di media massa agar opini mengarah ke penegasan tolak segala bentuk pornografi. Tapi, bagi yang dekat dengan kekuasaan, alangkah baiknya kalau duduk bersama dengan anggota dewan untuk membahas tentang batasan-batasan pornografi agar cepat terealisasi menjadi Undang-Undang. Harapannya bisa menjadi payung hukum untuk menindak tegas industri media yang jelas-jelas memproduksi dan menyebarkan media porno. Selamat berjuang yach ^_^.
