Sunday, April 02, 2006

HMI, Kaum Lemah dan Terpinggirkan, dan Boneka Neolib

Kapankah kemerdekaan bagi orang papa terwujud dalam arti yang sebenarnya??. Merdeka dan berdaulat dalam arti dien, ekonomi, politik dan budaya.

Kongres yang lalu diselubungi oleh dua hal. Pertama, reformasi telah mati. Solusinya, kita harus maju kepada jalan revolusi. Kedua, siapa yang harus dipersalahkan atas matinya reformasi? Jalan praktisnya adalah menimpakan kesalahan tersebut sebagai murni kesalahan pribadi Gus Dur. Himpunan memilih untuk menyalahkan dua hal. Pertama, matinya reformasi merupakan akibat dari systemic damage warisan ORBA serta tetap diakomodasinya status quo ORBA di lembaga-lembaga demokrasi. Kedua, matinya reformasi merupakan cermin gagalnya seluruh tokoh dan kelompok "reformis" dalam menggalang cita dan kerja reformasi. Tercatat aksi Himpunan yang meminta agar elit politik menghentikan pertarungannya; atau turun semua saja. Himpunan juga sempat memberikan catatan penting bagi seluruh pihak. Yaitu agar semua pihak lebih memperhatikan nasib kaum mustadh'afiin yang di era reformasi semakin menderita. Begitulah mengapa muncul "Revolusi Sistemik untuk Kaum Mustadh'afiin", sebagai jargon perjuangan Himpunan.

Cita-cita tersebut tampak melintas di sepanjang sejarah kemanusiaan di dunia. Ali Syari'ati mengingatkan kita untuk waspada terhadap koalisi para pengusaha, penguasa, orang pintar dan para agamawan. Kita sering mendapati situasi dilema. Di tengah hancurnya seluruh sendi kehidupan manusia, apakah arif membubarkan Indonesia? Jika iya, bukankah ini yang diinginkan oleh kekuatan neolib dunia. Namun, apakah dengan dasar peringatan ini, berbagai kepincangan pemerintah akan kita diamkan hanya untuk menyelamatkan kepemilikan kita atas wilayah Indonesia?

Dalam merealisasikan semangat untuk merevolusi sistem yang berpihak kepada kaum papa, Himpunan dan sebagian masyarakat yang setuju dengan ide itu, setidaknya harus dapat menjawab satu hal. Bagaimana strategi yang tepat agar ketika Himpunan menghantam pemerintah yang lalim terhadap kaum papa, tidak serta merta sebenarnya menguntungkan kekuatan neolib dunia? Begitu pula sebaliknya. Pertanyaan ini menuntut Himpunan agar mampu menata cara pandangnya terhadap beberapa kata pokok: neoliberal (rezim politik dunia: DK PBB, rezim moneter: IMF, rezim keuangan: World Bank, dan rezim perdagangan:WTO), pemerintah boneka neoliberal, fungsi dan status negara, corporate, dan rakyat papa.

Tantangan ke depan masih dalam paradigma dan suasana yang sama. Bahkan belakangan kekuatan neolib memperlihatkan tanda-tanda yang sama dengan perilaku mereka satu abad silam. Politik terorisme USA, telah memakai cara-cara imperialisme lama untuk memaksakan dominasinya. Jika USA mengarahkan moncong senapannya ke hidung kita, apakah kita sanggup mempertahankan kemerdekaan kita. Bagaimana nasib orang desa, gelandangan kota, pengangguran, dan kaum papa lainnya jika kejadian Irak menimpa kita. Mungkin kita tidak sempat lagi mengingat perilaku kotor dari TNI, Partai Golkar, dsbnya. Seperti kiamat saja.

Oleh karena Himpunan harus memulai berpartisipasi untuk merekonstruksi kembali tata kehidupan yang dirusak oleh orang luar dan agennya di dalam. Tentunya kita harus segera menetapkan visi keindonesiaan yang sesuai dengan nilai dan semangat progresif dari dien yang tercermin ke dalam pandangan kita tentang ekologi dan manusia papa. Kongres juga berkewajiban untuk merumuskan perubahan sistemik kelembagaan agar compatible dengan tuntutan peran perubahan di tersebut. Merdeka 100%.

Pokok-pokok Permasalahan

Pertama, Himpunan dan kaum lemah yang terpinggirkan menghadapi kembali berkuasanya faham liberalisme (neoliberalisme) di panggung dunia. Diduga jenis imperialisme dan kolonialismenya akan menghasilkan problem struktural dan kultural yang yang lebih buruk dibanding sebelumnya. Diperlukan konsep, strategi dan langkah-langkah taktis dalam melawan dan mensiasati segala bentuk manivestasinya.

Kedua, Himpunan dan kaum lemah yang terpinggirkan menghadapi kondisi Indonesia yang mengalami kehancuran budaya yang tercermin dalam systemic damage yang dialami oleh negara. Hal ini memerlukan solusi jangka panjang, agar proses way outnya tidak memukul balik kondisi kaum mustadh'afiin yang sudah papa.

Ketiga, Konsolidasi gagasan pembelaan kaum lemah dan terpinggirkan di dalam tubuh Himpunan belum tertata rapi. Hal ini menuntut untuk ditata kembalinya cara pandang Himpunan terhadap problem internasional (neoliberalisme), systemic damage Indonesia, dan kebutuhan pragmatis kaum papa akan kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan.

Institusi Himpunan masih harus dirombak dan disempurnakan agar mampu menjadi institusi think tank, institusi advokasi, institusi eksperimentasi bagi penyelesaian berbagai persoalan dia atas secara lebih sistematis dan terencana. Selain itu network Himpunan baik di dunia gerakan Islam maupun gerakan lainnya perlu dikumpulkan dan ditata kembali agar seluruh perencanaan dapat berjalan sesuai dengan pokok masalah dan momentumnya. Wallahu a'alm bissawab



By : Buddy

Dasar Pemikiran HMI (MPO)

Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) merupakan organisasi mahasiswa yang selalu eksis dalam bidang intelektual dan pergerakan. Setiap aktivitas yang dilakukan selalu bernafaskan fakir dan dzikir. Dua dimensi ini bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Selama kurun waktu sejarah HMI, berfikir dan bertindak kritis revolusioner dan anti kemapanan telah menjadi pola khas bagi setiap kader HMI-MPO yang menjadi korban refresif orde baru yang otoriter. Sementara pada dzikir, HMI-MPO tidak menempatkannya pada posisi make-up dan asesoris belaka. Sisi ideologis ini menjadi salah satu kerangka acuan dalam upaya menangkal krisis rohani kader, sebuah keinginan mulia kearah komitmen terhadap Islam. Bagi HMI-MPO, Islam tidak bisa diterjemahkan hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi wacana dalam segala artikulasi intelektual dan sosial politiknya.

Tipologi ideal bagi HMI-MPO terjewantahkan dalam karakter insan ulil albab yang disebut dalam al-Quran sebagai: (1) Mempunyai etos intelektual yang tinggi. (2) Kritis-analitis-selektif dan tidak terjebak dalam opini publik yang menyesatkan. (3) Berdakwah dan menyatakan kebenaran dengan segala konsekuensinya. (4) Bersifat independent dan hanya takut kepada Allah SWT. (5) Rajin beribadah terutama qiyamullail yang merupakan energi dan spirit yang akan memompa semangat juang para aktivis kebenaran.

HMI-MPO memposisikan dirinya sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan. Karena eksistensi Islam sampai sekarang ini diyakini tidak terlepas dari proses kaderisasi dan perjuangan nabi Muhammad SAW, lima belas abad yang lalu. Maka HMI-MPO memandang bahwa sebuah peradaban yang par-exellence (masyarakat yang diridhoi oleh Allah)yang terlahir dari sebuah proses panjang perkaderan dan perjuangan secara perennial untuk mencipta insan ulil albab. Dimana komitmen ideologis keberislaman menjadi ruh dan nafas gerakannya.

HMI-MPO telah membuktikan dirinya sebagai organisasi anti kemapanan dan hanya dependen terhadap kebenaran. Siapapun yang berada pada posisi penindas adalah LAWAN. Dan siapapun yang berada di posisi tertindas adalah KAWAN. Kokoh secara ideologis dan militant secara praksis. Dia tidak bisa dikotak-kotakan ke dalam gerakan "kanan" ataupun "kiri". Baginya keberpihakan kepada kebenaran dan keberpihakan kepada kaum mustadl'afin (yang tertindas) adalah satu tarikan nafas. Yakin Usaha Sampai!!!!


By : Buddy

" MUSLIMAH "

Ketika mendengar kata Muslimah.......

Begitu Anggunnya...Si Dia, Ya Kata yang di rekatkan dengan perempuan yang identik dengan Islam, namun kata ini maknanya di zaman ini sepertinya menjadi hal yang biasa...setiap perempuan Islam yang memakai jilbab atau menutupi kepalanya dengan kain akan dikatakan sebagai seorang Muslimah. Benarkah makna itu? atau ada yang salah dari pemaknaan pada zaman yang sekarang ini.

Perempuan...kata ini juga sangat anggun. Apapun gelar yang melekat pada dirinya akan tetap nampak indah.....dalam segi agama juga begitu...

Perempuan.....Setiap mendengar kata ini saya teringat dengan ibu saya yang sangat saya kagumi...ya teramat saya kagumi.

Kembali ke Muslimah......yang bagaimanakah muslimah yang sebenarnya? Bisakah kita dapatkan di zaman sekarang ini? Dalam kehidupan yang selalu ada sisi lawannya....

Benar & salah, Hitam & Putih......dan tentunya masih banyak lagi lawan kata yang dapat anda cari dengan sendirinya.....

Muslimah.....

Lihatlah dirimu.....Benarkah kau seorang Muslimah...

Begitu banyak pelanggaran yang dilakukan....

Pernahkah kita menagisi dosa-dosa kita karena kita melakukan suatu kesalahan..

Hai Muslimah...

Apa yang kau cari....

Apa yang kau dapatkan .......

Dalam kesempatan ini Ada pesan yang ingin saya sampaikan yang kiranya bisa dijadikan pelajaran dalam hidup ini untukmu Adiku Muslimah yang kusayangi

Begitu banyak kisah dalam hidup ini yang tentunya dapat dijadikan acuan dalam mengahdapi kehidupan yang sangat keras ini.

Muslimah

Jagalah dirimu

Dari setiap lelaki yang bukan muhrimmu

Muslimah...!!!

Kau jika di ibaratkan bagaikan telur

Yang jika jatuh akan pecah dan teluryang pecah itu akan menimbulkan bau yang busuk.

Walau dibuat apapun telur itu dengan adonan yang sangat.....hingga menjadi kue ..tetap saja ada bau nggak enak dari kue tersebut yag berasal dari telur yang di pecahkan

Muslimah

Kau ibarat kaca

Yang jika retak, walaupun di sambung lagi keretakan itu tidak akan dapat disembunyikan.

Akan kelihatan retaknya.

Muslimah

Lelaki yang kau kenal dan bukan muhrimmu

Apapun dia, jangan sampai engkau terpedaya

Mereka hanya ingin menghisap madu yang ada pada dirimu.

Muslimah

Jika telah terjadi sesuatu padamu...maka tidak ada lagi yang dapat menolongmu.

Sekali kau terjatuh maka kau akan sangat susah untuk bangkit kembali.

Maka Hai para Muslimah

Berhati-hatilah.......!!

By : Buddy

Neoliberalisme : modus baru penjajahan dunia

Semangat gold, glory and gospel diperlihatkan oleh sejarah penjajahan kapitalis dunia dengan wajah yang berbeda-beda. Bentuk dan model penguasaan ekonomi, politik, dan sosial-budaya ini bermetamorfosa sejalan dengan nilai-nilai umum yang sedang dikembangkannya sendiri.

Di awal 1900-an, terjadi kegagalan krisis konsolidasi kapitalis dunia (Eropa, USA, dll). Puncak awalnya dipicu oleh aksi unilateral USA. Liga Bangsa-Bangsa bubar dan berkobarlah PD I dan II. Bencana kemanusiaan terjadi. Volume Industri militer meroket seiring dengan melayangnya jutaan nyawa. Proses ini melemahkan kontrol mereka terhadap wilayah jajahan, dan warga di wilayah itu mengambil kesempatan untuk merdeka. Ratusan nation state di Afrika dan Asia "berdiri". Puncak akhir krisis ditandai dengan dibentuknya PBB (1945) dengan human right sebagai dasar pergaulannya.

Krisis panjang di atas berpuncak pada depresi besar 1930-an. Hal ini memukul telak faham liberalisme-Adam Smith (1776) yang selama itu berkuasa. Pendulum pun bergerak ke arah perluasan peran negara (new deal Rosevelt 1935). New deal menjadi gerakan protes terhadap pertikaian para pemain swasta yang meletuskan PD I dan II. Protes ini melahirkan welfare state di Eropa Barat. Dan negara komunis semakin subur di Cina, Soviet, dan Eropa Timur. Namun, sejarah liberalisme tidaklah habis. Di tengah sempitnya opini, mereka sempat berkonsolidasi ke dalam kekuatan supra state bernama IMF, World Bank dan GATT (Perjanjian Bretton Wood, 1947).

Apakah gerak pendulum itu menghentikan penjajahan? Tidak. Selama cold war, tiga supra state (DK PBB, IMF, dan World Bank) secara efektif digunakan TNCs sebagai forum “negosiasi” bagi aksi penciptaan ketergantungan terhadap negeri bekas jajahan. Utang menjadi instrumen utama. Disematkan istilah modernisasi dan development country sebagai paradigma “menolong” negara-negara miskin. Digunakan pula isu sosial budaya (demokrasi dam HAM) untuk menghantam Blok Timur Soviet. GATT mulai efektif pasca runtuhnya blok komunis. Belakangan berubah nama menjadi WTO pada medio 1990-an. Ujung cerita mudah ditebak. Kebanyakan negara miskin tetap berada dalam posisi dijajah. Perang Malfinas, Afghanistan, krisis ekonomi Argentina, isolasi Kuba-Iran-Korut, jatuhnya Soekarno, dll tidak lepas dari skenario di atas.

Lepas dari itu, bagi TNCs, tenggelamnya faham liberalisme merupakan petaka. Besarnya peran negara dibanding peran swasta---dalam sistem welfare state di negeri mereka sendiri---, telah menghambat laju akumulasi modal. Proteksionisme, faham kesejahteraan rakyat, serta pengelolaan SDA kerakyatan, dituding sebagai penyebabnya. Serta merta mereka mendapat momentum kembali sesaat setelah ambruknya USSR dan krisis ekonomi di Amerika Selatan, Eropa Timur, dan kawasan Asia. Jutaan dolar digerojok kepada ribuan "intelektual kampus" dan pusat-pusat riset untuk mengkampanyekan tiga isu ideologis yaitu demokrasi liberal (politik), pasar tunggal (ekonomi), dan konsumerisme (budaya). Ketiganya dibungkus manis dengan kata globalisasi. Begitulah globalisasi menjadi simbol kebangkitan kembali liberalisme-Adam Smith di awal abad ini: NEOLIBERALISME. Wallahu a'alm bissawab



By : Buddy

Peran Profetis

Eksistensi Himpunan Mahasiswa Islam sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan semakin ditantang untuk menunjukkan dinamika dan progresivitasnya. Era reformasi adalah sebuah kenyataan dimana kekuatan-kekuatan kritis tidak lagi bisa diklaim menjadi milik atau trade mark orang atau kelompok tertentu. Mulai dari kalangan eksekutif sampai pada lapisan masyarakat paling bawah kekritisan telah menjadi fenomena nyata. Kalau dalam era Orde baru, kekritisan itu dapat disebut 'barang langka' dan mahal kini menjadi barang murah dan dijejal dimana-mana. Bagi elemen yang terbiasa menjadikan trade mark kekritisan sebagai kekuatan pendobrak status quo kedzaliman dan atau simbol lokomotif perubahan seolah-olah harus terpaksa mengaca diri untuk tidak hanya mampu tampil dengan model dan style seperti itu.

Kini tantangan yang dihadapi justru bukan karena kita bersama bersuara dengan nada kritis ataukah karena menggunakan jargon perlawanan dan perjuangan yang serupa tetapi lebih jauh justru mampu menunjukkan keunggulan-keunggulan dalam berbagai persfektifnya. Reformasi tidak lagi dapat diklaim oleh pihak yang mendorong karena telah menjadi milik dan barang semua orang. Reformasi tidak dapat lagi dipandang hanya dapat dikendalikan oleh pihak reformis karena pihak yang tidak reformis pun lebih lantang menyuarakan reformasi dari sang reformis itu sendiri.

Ada semacam keraguan yang memunculkan pertanyaan bahwa, " Akankah sesuatu yang baik dan sempurna dapat diperoleh dengan setengah hati termasuk reformasi yang -katanya-- lagi digulirkan?" Pertanyaan tersebut memberi indikasi bahwa reformasi tidak dilaksanakan dengan serius. Kalau agenda tersebut dilakukan dengan serius, kenapa kemudian reformasi itu tidak memberi perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Seolah-olah rada ragu itu merupakan jawaban yang spontan atas ketidak berhasilan reformasi. Kalau reformasi dipahamami sebagai pergantian struktur, boleh dikatakan sebagaian, ya. Tetapi reformasi dipandang sebagai sesuatu yang signifikan bagi rakyat dan terbentuknya clean goverment menjadi sesuatu yang dipertanyakan. Hal ini sebagai indikasi bahwa terbentuk watak masyarakat yang bersih, tegaknya supremasi hukum, stabilnya perekonomian yang bersendikan keadilan distributif semakin menguatkan pertanyaan dan keraguan akan gerakan reformasi. Bahkan sekian lagi pertanyaan lain tentang reformasi belum terjawab.

Berkenaan dengan hal ini ada kecenderungan untuk mengkristalkan pilahan antara menjadi pemain yang masih berharap pada sistem yang demikian atau justru harus melakukan tindakan yang memang dipandang sebagai penciptaan sistem alternatif secara fundamental -alias revolusi. Kesan yang selalu ditangkap dari revolusi adalah konflik fisik-kebrutalan dan juga dapat bermakna penghapusan kekuatan lama atau sebelumnya. Akan tetapi revolusi yang dimaksud tidak sekedar itu tetapi revolusi yang yang disiapkan dan dinanti, revolusi yang mengkristal menjadi watak dan semangat baru yang luhur atau dapat disebut revolusi kultur, revolusi pola fikir dan karakter atau lebih tepatnya disebut revolusi sistemik.

Apabila hal ini dipandang menjadi jargon dan lokomotif yang harus dan mutlak digerakkan maka tindakan yang dapat dilakukan harus dengan mempersiapkannya. Untuk mengawal pilihan pertama dan bahkan kedua, bagaimanapun juga harus dipandang bahwa kekritisan tidak cukup tetapi harus dengan tindakan dan karakter yang tercipta..

Memotret realitas yng ada, hampir semua elemen yang terlibat dalam reformasi kini menjadi kekuatan 'baru' yang dipertanyakan eksistensinya. Kecenderungan untuk sekedar melakukan pragmentasi politik dan hukum --alias mengulang 'prilaku' orde baru-- tampak dimana-mana. Olehnya itu, perlu ada upaya yang tidak sekedar menjadi kekuatan kritis tetapi pilihan harapan dan tindakan. Pilihan ini dapat muncul dari upaya yang sinergis, intens dan serius. Upaya ini tidak sekedar idealisme tetapi sebuah upaya mengkonstruksi karakter dan tindakan yang benar yang sifatnya sistemik. Upaya ini pula harus dipahami sebagai tindakan social engenering yang menjadi titik tumpuan. Ada keunggulan yang dapat menjadi harapan bagi HMI-MPO untuk melakukan tindakan social enggenering ini. Keunggulan itu ada pada eksitensinya sebagai organisasi kader dan perjuangan. Akan tetapi hal itu bisa menjadi harapan semata ketika kristalisasi watak kader tidak mengarah ke sana apalagi terjebak pada pilihan pragmatis dan sesaat. Barangkali kalau sedikit mau peduli, kekuatan mana lagi yang mau dan bersedia melakukan proyek suci dan mulia ini kalau bukan kita sendiri --kader HMI*.


By : Buddy*

Rekonsiliasi Duo HMI ?

Wah,..... rupanya setelah diskusi duo-HMI ini marak sekitar akhir tahun 2005 lalu, kini diskusi ini kembali marak seiring dengan diadakannya kongres HMI di makassar.

pada kongres HMI-MPO di Palu bulan Agustus yang lalu, pembahasan mengenai nama ini memang sempat memakan waktu banyak dan perbenturannya cukup keras. waktu itu, temen-temen dari Badko Inbagbar yang pada awalnya penuh semangat mengusulkan perubahan peresmian nama HMI-MPO dalam AD/ART HMI sempat ciut asa gara-gara di "tuduh" akan menyelewngkan HMI". Lebih parah lagi, ada yang sempat penuduhnya sebagai peserta penyusup dengan pesanan dari luar : merusak HMI dari dalam.

Setelah berdebat amat lama, akhirnya sang palu sidang kembali mengesahkan nama HMI saja (bukan HMI-MPO) sebagai nama resmi organisasi HMI-MPO itu. Konsekuensinya, sebagaimana di katakan Bang Ubed, .... dalam kop surat, publikasi, dan sebagainya HMI-MPO masih memakai nama HMI, sebagaimana yang di pakai oleh HMI sebelahnya.
(Tapi jangan kuatir Bang.... biasanya para pengurus besar kalau konferensi pers pake nama HMI-MPO, sehingga dimuatnya juga pake HMI-MPO. Waktu kita ngurus Aceh, meski menyelahi AD/ART kita juga pake nama resmi posko kita dengan nama Posko HMI-MPO, demikian juga untuk surat-surat yang kita kirimkan ke jaringan di sana).

Sampai di sini saya sepakat dengan Bang Ubed.....
Selama ini HMI-MPO selalu ambigu. Dalam hal identitas diri, HMI-MPO paling tidak tegas dan berpijak pada dua kaki. Kalau ketemu alumni HMI yang tua atau melobi birokrasi, mereka pake' HMI (saja), lalu kalo aksi dan publish media maunya pake nama HMI-MPO. Bahkan kalau tertulisnya pake HMI (saja) kadang marah dan menuduh wartawanya kurang informasi dan gak tahu sejarah. atau kadang ada yang mendudu :"waah... ini pasti wartawannya alumni Dipo (seenaknya saja menuduh !) hehehe.. :)

Mustinya sudah sejak dulu HMI-MPO menyadarai ke-ambigu-an ini, dan segera menegaskan diri bahwa dirinya adalah HMI-MPO. ya... HMI-MPO yang lahir dari pergulatan generasi muda HMI
tahun 80-an yang berusaha melakukan pembaharuan di HMI. lahir tahun 1986 dan punya ikatan sejarah dengan HMI yang lahir tahun 1947.

Namun agaknya, kebanyakan generasi MPO masih memberatkan dirinya dengan sejarah besar HMI itu. Satu sisi mereka berusaha melakukan identifikasi diri sebagai generasi yang independen dan progresif-revolusioner, namun di sisi lain mereka masih juga takut untuk 'tidak' dikatakan sebagai pewaris sejarah HMI. Perdebatan mereka masih lebih sengit ketika membicarakan tema "HMI asli dan HMI palsu" di banding perdebatan pengenai persoalan ummat (rakyat).

Klaim mengenai HMI asli dan HMI palsu ini terus-menerus menjadi hantu yang menggelayuti perjalanan kedua HMI, HMI (Dipo) dan HMI-MPO. Pertanyaannya, yang manakah HMI yang asli itu ? Bertolak dari sini saya ingin melihat perdebatan ini dalam dua ukuran.

yang pertama, adalah ukuran legalitas. Jelas, dengan parameter ini HMI-MPO adalah HMI yang ilegal alias tidak legal, dan HMI (Dipo) adalah HMI yang legal. Dari kaca mata negara, sudah jelas, HMI (Dipo) adalah HMI yang secara legal dan sah tercatat di departemen kehakiman sebagai salah organisasi mahasiswa yang sah. dari kaca
mata sejarah, pasca kongres HMI di Padang, HMI (dipo)-lah yang secara resmi melanjutkan ketetapan-ketetapan kongres itu. Sedangkan HMI-MPO adalah organisasi bentukan baru yang lahir dari para aktivis HMI (juga) dan di di resmikan di melalui kongresnya di Yogyakarta (setelah kongres HMI di Padang itu). Jadi harus di akui, sampai saat ini HMI-MPO tidak legal.

Kedua, ukuran legitimasi. Dalam perjalanan sejarahnya semenjak tahun 80-an sampai sekarang, HMI-MPO telah membuktikan dirinya sebagai sebuah entitas yang punya makna, eksis dan bahkan memberikan kontribusi sosial. Lebih lanjut, eksistensi HMI-MPO bahkan punya identitas khas yang berbeda dengan organisasi lainnya (termasuk
dengan HMI-Dipo) sehingga akhirnya mendapatkan legitimasi dari masyarakat, khususnya Indonesia. Jelas, dengan Identitasnya sebagai organisasi independen yang pernah punya track record melawan rezim lalim, HMI-MPO tidak diragukan lagi legitimasinya sebagai salah satu
organisasi mahasiswa tingkat nasional.

Dari kedua perspektif tersebut maka kita dapat menarik benang merah bahwa HMI-MPO adalah organisasi yang meskipun tidak legal (dari kaca mata negara) namun "legitimate" di hadapan bangsa Indonesia. Lalu mengapa HMI-MPO masih berkubang pada polemik "HMI asli dan HMI palsu ?".

Oleh karena itu, saya 100% spakat dengan ide dari Bang Ubed : segera legalkan saja HMI-MPO. HMI-MPO sudah punya legitimasi dan hanya tinggal satu langkah lagi, terlegalisasi.



By : Buddy

"Rendah Hati"

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalm urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya”.

Perhiasan hati yang satu ini sangat berharga, namanya rendah hati. Sebuah kata yang sangat mudah untuk diucapkan, namun banyak orang yang mengalami kesulitan dan bahkan gagal dalam melaksanakannya. Oleh sebab itu sangat patut bagi manusia untuk meminta ‘bantuan’ dari Allah agar dapat melaksanakannya. Sebagaimana disinggung dalam ayat yang disebutkan di muka, bahwa ”kalau bukan karena karunia Allah, tidaklah kamu berlaku lemah lembut” (fa bimaa rahmatin linta lahum). Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman: “Ingatlah tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa, wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami di sisimu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dari urusan kami ini.”

Pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari kedua ayat yang di atas? Salah satunya adalah bahwa orang yang rendah hati itu memiliki ciri-ciri yang khas. Pertama adalah sikap dan sifat yang lemah-lembut; kedua pemaaf; ketiga suka memohonkan ampun; keempat, gemar bermusyawarah.

Kisah tentang kerasnya hati lalu berubah menjadi lembut karena rahmat Allah tergambar dalam perjalanan hidup Umar bin Khattab. Dikisahkan, Umar bin Khattab sebelum masuk Islam berperilaku sadis, kejam sekali, sampai suatu ketika ia melihat orang yang masuk Islam langsung hendak dibunuhnya. Termasuk anaknya sendiri ia bunuh. Suatu hari saat mendengar kabar bahwa adiknya sendiri masuk Islam, mukanya merah padam. Ia marah besar. Seketika ia menghunuskan pedangnya. Lalu ia pergi ke rumah adiknya dengan perasaan yang geram.

Saat itu adiknya sedang membaca al-Qur’an dengan khusyuknya. Lantunan ayat-ayat agung itu begitu indah dan merdu. Begitu mendengar untaian kalimah-kalimah mulia itu kemarahan Umar mendadak padam. Tubuhnya bergetar. Tangannya mengigil. Pedangnya terlepas dan jatuh. Hatinya luluh dan seketika itu ia bertanya kepada adiknya tentang lafaz-lafaz yang dibacanya. Fatimah, adiknya, mengatakan bahwa itu adalah al-Qur’an. Tanpa pikir panjang, Umar langsung menyatakan keyakinannya atas ajaran Nabi Muhammad ini. Ia masuk Islam. Tidak cukup hanya mengucapkan dua kalimah syahadat, ia juga mempelajari ajaran-ajaran Islam yang lain dari Nabi Muhammad sendiri maupun dari para sahabat yang lain. Walhasil, hatinya yang semula keras, kejam, dan sadis berubah menjadi lembut dan mulia.
Tak berhenti hanya ketika Rasulullah masih hidup, bahkan ketika Rasulullah sudah meninggal dunia, keteguhannya kepada Islam tetap kuat. Pada saat amanah kekhalifahan berada di pundaknya, selain memikirkan urusan-urusan kenegaraan, beliau juga memikirkan nasib rakyatnya. Kalau khalifah sebelumnya, Abu Bakar, membagi malam harinya untuk tidur, tahajud, dan membaca al-Qur’an, Khalifah Umar bin Khattab menggunakan sepertiga malam untuk tidur, sepertiga untuk tahajjud, dan sepertiga lainnya untuk berkeliling mendengar keluh kesah rakyatnya.

Dalam sebuah kesempatan, ketika Umar bin Khattab sedang berkeliling memeriksa kondisi rakyatnya, terdengar suara tangisan anak-anak yang begitu menyayat dari sebuah gubuk. Beliau berhenti. Suara tangis itu kian lama kian mengeras. Beliau memutuskan masuk ke gubuk tersebut. Tiga kali salam beliau ucapkan tapi tak ada sahutan dari dalam gubuk. Akhirnya, beliau masuk saja. Alangkah terkejutnya beliau saat mengetahui bahwa ternyata ibunya sedang merebus batu. Ketika ditanya kenapa ia melakukan hal itu, Ibu yang tampak bermuram durja itu menjawab bahwa suaminya telah meninggal di medan perang. Sementara anak-anaknya tidak ada yang bisa menafkahi, sudah tiga hari tidak makan. Semua ini, katanya, dikarenakan pemerintahan Umar yang tidak peduli pada keluarga mujahid yang meninggal di peperangan. Sehingga mereka sengsara dan menderita.

Hati Umar trenyuh dan sedih mendengar keluh kesah keluarga tersebut. Beliau kemudian pergi ke Baitul Maal, mengambil sekarung gandum, dan memanggulnya sendiri untuk dihantarkan ke keluarga yang menderita tadi. Ketika ada salah seorang sahabat yang tahu Sang Khalifah memanggul barang berat, ia menawarkan untuk menggatikannya, tapi Umar tak mau. Ia ingin mekakukannya sendiri. Malahan Umar balik bertanya, apakah kamu sanggup memikul dosaku di Padang Mahsyar nanti? Sahabat tadi lalu mebiarkannya saja sambil terheran-heran.
Sesampai di rumah keluarga yang memasak batu tadi, Umar menyediakan dirinya sebagai juru masak yang baik buat mereka. Ia memasak gandum tadi beserta sayur dan lauk pauknya sekalian. Setelah semuanya matang, ia menghidangkannya buat seluruh anggota keluarga tadi. Lalu beliau berpamitan pulang. Betapa gembiranya Ibu dan anak-anaknya. Ia menghaturkan ucapan terima kasih berulang-ulang. Ia mengatakan bahwa perilaku dan amalnya jauh lebih baik daripada Umar bin Khattab. Ibu tadi tidak menyadari bahwa ternyata yang dihadapinya adalah Umar, Sang Amirul Mukminin, orang yang disinggungnya.

Pada kesempatan yang lain, Umar bin Khattab berjalan-jalan di malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya lagi. Kali ini ia menemukan kenyataan yang serupa dengan yang dijumpainya ketika ada keluarga yang merebus batu. Persis di sebuah gubuk kecil yang tampak terawat ada perbincangan seorang ibu dengan anak gadisnya. Sang ibu bertanya kepada anak gadisnya, “Anakku, apakah engkau sudah memeras susu?” Si anak menyahutinya dengan antusias,” Ya, sudah, Bu!” Ibunya bertanya lagi,“Dapat berapa?” Dengan lembut anaknya menjawab,” Dapat setengah liter, Bu!” Sang ibu tidak begitu puas dengan hasil perasan susu yang hanya setengah liter. Ia pun memerintahkan anaknya untuk mencampurnya dengan air. Tapi sang anak menolak. Ia ingat betul pesan khalifah Umar yang melarang mencampurkan (mengoplos) susu dengan air. Sebab pengoplosan sama dengan penipuan. Ibunya bersikeras,” Khalifah macam apa dia. Ayahmu perang, meninggal, dan kita dalam keadaan susah begini, ia tak tahu dan mengabaikan.” Dengan nada yang lembut dan tenang sang anak menyahuti ibunya,“ Iya Ibu. Namiun meski Khalifah Umar tidak belihat, bukankah Allah tetap melihat dan mengetahui perbuatan kita?!”

Demi mendengar kata-kata anak gadis itu, Umar terharu. Keesokan harinya beliau memerintahkan para sahabat untuk menyelediki siapa gerangan anak gadis itu. Ternyata benar, ia adalah seorang anak yatim yang ditinggal ayahnya yang meninggal di medan perang. Umar lalu memanggil anaknya yang masih bujangan. Ia bertanya kepadanya,“ Maukah engkau menikah dengan anak gadis yang dalam dirinya terdapat mutiara?” Demikianlah Umar yang dengan kerendahan hatinya dapat menemukan mutiara terpendam, meskipun letaknya ada di antara rakyatnya yang tak terpandang.

Di zaman yang serba materialistis ini, sulit menemukan pribadi pemimpin agung seperti Umar ini. Ia mencarikan jodoh buat anaknya tidak dengan memandang timbunan mutiara, aneka perhiasan, atau kekayaan yang dimiliki calon menantunya. Namun yang dicarinya adalah orang yang memiliki mutiara dalam hatinya, yakni keyakinan agamanya. Dengan kerendahan hati, Umar juga tidak mempermasalahkan pangkat, paras, maupun asal-usul kebangsaan keluarganya. Tapi ia begitu perhatian dengan hatinya, tempat dimana keyakinan agama bersemayam.

Kisah yang lain menceritakan tentang pembagian zakat. Suatu kali zakat yang terkumpul lumayan banyak, sebelum kemudian dibagi-bagikan kepada orang miskin. Sebagai pemimpin yang mengamili zakat, Umar seharusnya juga mendapatkan hak. Para amilin (pembagi) mengambil haknya secara penuh, yang masing masing nilainya cukup banyak. Sementara Umar hanya mengambil satu setel baju saja. Lalau ada sahabat yang memprotes,” Wahai pemimpin kami, kami tidak akan mematuhimu lagi.” “Kenapa demikian” Umar bertanya keheranan. “Sebab ini sungguh tidak adil. Orang lain mendapat banyak, sementara engkau sendiri hanya mendapatkan satu stel baju.” Umar tidak menjawab, ia hanya melikrik saja kepada anaknya. Mengerti akan isyarat yang diberikan ayahnya, sang anak angkat bicara,” Soal baju ayah, biar saya yang bertanggung jawab.
Masih tentang Umar bin Khattab. Anaknya yang masih kecil tiba-tiba merajut. Ia tak mau pergi bersekolah dan bermain dengan teman-temannya lagi karena ia sering diejek gara-gara bajunya terlalu banyak tambalannya. Tak sampai hati mendengar keluhan dan aduan anaknya, Umar bin Khattab pergi ke bendahara negara. Ia hendak meminjam uang untuk membelikan baju untuk anaknya. Ia mengatakan kepada bendahara tentang keperluan pribadinya, meminjam uang. Untuk melunasinya, ia meminta agar bendahara memotong gaji bulanannya. Sang bendahara tidak begitu saja menerima permintaan Umar. Ia berkata,” Hai Umar, apa kamu yakin bahwa umurmu sampai bulan depan?” Mendengar peringatan dari bendahara itu, Umar terpukul sekali. Ia tersadar bahwa tak mungkin baginya untuk meminjam uang dari kas negara. Lalu Umar pun pulang menemui anaknya dengan tangan hampa. Tapi ia tetap membesarkan hati anaknya agar tetap mau bersekolah meskipun dengan pakaian yang apa adanya.

Kejadian semacam itu adalah suatu hal yang langka, barangkali malah mustahil dapat dilakukan oleh para pemimpin di zaman sekarang ini. Yang paling mungkin mereka lakukan adalah memecat bendahara yang membangkanag atau malah berkongkalikong dengan bendahara untuk melakukan korupsi bersama. Namun tidak demikian bagi pemipin atau seorang muslim yang mau meneladani perilaku Umar bin Khattab yang rendah hati itu.
Kenapa manusia bisa memiliki hati yang lembut dan mulia semacam Umar tadi? Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran bagimu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmatnya. Hendaklah dengan itu kita bergembira. Kurnia Allah dan rahmatnya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Karunia dan rahmat Allah adalah jawabannya. Jadi, jika manusia hendak mendapatkan kualitas sifat rendah hati yang baik, maka ia musti mencari dan mendapatkan rahmat dan karunia dari Allah. Bagaimana caranya? Allah sudah memanggil manusia dengan panggilan ”Wahai Manusia.” Kalau masih merasa manusia, tentu orang Islam musti menyahutinya. Ternyata setelah memanggil manusia Allah memberikan petunjuk tentang bagaimana agar manusia memperoleh rahmat dan karunia-Nya.

Dikatakan di ayat di atas bahwa telah datang pelajaran bagi manusia. Apakah pelajaran itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah al-Qur’an. Kalau yang dipanggil adalah an-naas, berarti yang dituju adalah manusia dalam pengertian ruhnya. Bukan manusia dalam pengertian al-insaan (jasad). Nah, jika demikian halnya maka bagaimana caranya agar ruh manusia ini terpanggil untuk mempelajari dan mengamalkan pelajaran yang didapatnya? Adalah dengan cara terus-menerus membaca, mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan al-Qur’an demi mendapatkan rahmat Allah. Jadi, jika ada manusia yang pergi ke sebuah majlis taklim hanya karena merasa tidak enak kepada teman-temannya yang lain, atau hanya untuk mencari teman, atau biar dikatakan soleh atau solehah, maka semua pekerjaannya menjadi sia-sia belaka. Orang yang semacam itu tidak akan mendapatkan inti dari pelajaran al-Qur’an yang artinya rahmat Allah pun enggan mampir kepadanya.

Semua tindakan musti dilandasi oleh keinginan tulus untuk mendapatkan rahmat dan karunia Allah. Sebab keduanya hanya diberikan kepada orang yang dikehendaki. Artinya, orang-orang yang mampu memahami dan mengamalkan pelajarannya dengan baik. Untuk itu, hal-hal yang penting musti dicatat, dibaca ulang, dipelajari sambil terus berdo’a agar diberi kepahaman yang benar,” Rabbii zidnii ilman wa-rzuqnii fahman (Tuhan, beri aku ilmu, beri aku paham ya Allah).
Dengan pelajaran yang menghujam ke dalam hati dan pikiran, niscaya penyakit-penyakit yang bercokol di dalam diri manusia akan terobati. Begitu pula halnya dengan Umar bin Khattab yang berhasil menghilangkan sifat kejinya dan berganti dengan kerendahan hati. Hal itu semata-mata karena beliau mampu menghafalkan, menghayati, dan mengambil pelajaran darinya. Sehingga perbuatan-perbuatan jahat yang tadinya bercokol di dalam dada terkikis habis hingga hilang sama sekali atas rahmat dan petunjuk dari Allah. Atas karunia semacam itu lalu manusia bergembira, bersyukur, dan selalu ingat kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang terpuji.
Tentang pentingnya mengasah dan menghiasi diri dengan pelajaran dari Allah ini, ada tauladan dari sejarah kenabian. Alkisah, suatu hari Nabi Muhammad sedang memberikan pelajaran kepada para sahabat. Nabi bertanya, “Wahai sahabatku, adakah di antara kalian yang mau keluar rumah, berdagang, dan lalu pulang dengan membawa keuntungan dua ekor unta?” Para sahabat menjawab dengan gembira,” Kami mau ya Rasulullah.” Nabi melanjutkan bahwa yang dimaksud dengan keluar rumah itu adalah pergi ke majelis ilmu, menuntut ilmu dengan benar. Yang demikian itu, menurut Rasulullah, lebih baik daripada 2 ekor unta. Berdagang dengan Allah melalui belajar di sebuah majelis ilmu ternyata lebih menguntungkan dan mulia daripada berdagang dalam arti sesungguhnya. Tentu saja keuntungannya bukan materi, tapi bisa saja dengan keuntungan yang sifatnya non-materi (yaitu ilmu), materi akan datang dengan sendirinya. Namun demikian, ilmu yang didapat dan diamalkan dengan benar akan mendatangkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya, yakni kebahagiaan ukhrawi. Bukankah Allah pernah berfirman,” Wal-aakhiratu khairul-laka minal-uulaa (negeri akherat itu lebih baik dan lebih kekal daripada dunia)?”
Namun demikian, hanya sedikit orang yang percaya akan adanya kebahagiaan di akhirat itu. Orang yang sedikit itulah yang disebut sebagai orang pilihan. Sebab mereka mau belajar al-Qur’an, memahaminya, dan mengamalkannya sehingga dapat memetik hikmah dan buah darinya. Pernah ada seorang sahabat yang berdoa di Multazam. Doanya unik tapi indah. Bunyinya,” Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam golongan yang sedikit.” Nabi mendengarnya. Doa itu dipanjatkan berulang-ulang kali. Nabi penasaran dan bertanya,” Kenapa kamu berdoa dengan lafaz yang seperti itu?” Sahabat tadi dengan santai menjawab,” Allah memberitahukan bahwa sedikit orang yang masuk surga. Untuk itu aku berdoa semoga aku dimasukkan ke golongang orang yang sedikit itu.” Benar juga si sahabat ini !!
Tentu saja nasib orang yang terpilih tadi akan sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Dari seluruh jumlah penduduk di Idonesia ini, berapa orang yang bisa membaca al-Qur’an? Dari orang yang bisa membaca, berapa orang yang mengerti maknanya? Dari yang mengerti maknanya, berapa yang mau mengamalkannya dan kemudian mengimani seutuhnya? Jika diurutkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka urutannya makin ke belakang pasti jumlahnya makin sedikit saja. Dan, orang yang termasuk dalam golongan yang sedikit itu (orang beriman) adalah orang yang akan mendapatkan kenikmatan dari Allah. Allah berfirman dalam al-Qur’an:
“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka, amat buruklah apa yang disangka itu.”
Orang yang suka melakukan kejahatan berbeda dengan orang yang beriman. Seiring sunnah alam yang di dalamnya ada kehidupan dan kematian, ada yang hidup dan ada yang mati, maka demikian pula dengan manusia. Benar bahwa konsep mati adalah ketika ruh meninggalkan jasad dan hidup itu adalah ketika ruh masih bersama jasad. Namun demikian, orang yang berbuat jahat sesungguhnya ‘mati’. Ruhnya yang mati meskipun ia masih berada dalam kandungan jasad. Tapi karena ruh itu tak pernah diberi makan, dimandikan, dirawat, dan di beri pendidikan maka ia hakekatnya telah mati. Dalam kaitan inilah, sabda nabi menemukan ketepatan maknanya ketika beliau mengatakan, ruh itu di dunia tidur (an-nafsu fiddunya niyamun). Ruh tidak bekerja dan tidak berfungsi. Itu sama artinya dengan mati.
Sementara orang yang beriman, ia mengerti firman Allah. Meskipun semula juga tidak tahu apa makna dan pengertiannya, tapi ia terus mau belajar. Dari belajar ia faham. Proses belajar dan membacanya tak pernah mengenal kata henti. Semakin ia baca firman Allah itu, semakin banyak makna dan kepahaman yang menghambur ke dalam dirinya, dan merasuk ke dalam ruhnya.
Dulu pernah saya ibaratkan orang yang beriman itu melalui kisah dua anak muda yang saling mengikat janji. Karena satu dan lain hal berkaitan dengan pekerjaan, akhirnya mereka terpisah oleh jarak yang begitu jauh. Tapi sebenarnya jarak itu tak sanggup memisahkan ikatan cinta yang begitu dalam di antara mereka. Lama kelamaan, kabar dari yang pria tak kunjung datang. Sehingga si perempuan yang tadinya setia menunggu di rumah, akhirnya tak kuasa lagi menunggu. Dia dan keluarganya memutuskan untuk menerima lamaran lelaki lain. Tak lama setelah itu, surat dari sang kekasih lama nun jauh di sana datang. Di dalamnya tertulis untaian ungkapan cinta yang menentramkan. Dia menulis, “Kita dulu memadu kasih dan janji setia dengan hikmatnya. Kesyahduan alam meliputi dan meridhai kita. Demi masa depan kita, aku pergi meninggalkanmu sementara. Memang aku keliru karena agak lama tak memberimu kabar. Padahal, tadinya aku ingin memberimu sebuah kejutan. Aku hendak datang dan langsung melamarmu menjadi istri abadiku. Sayangnya, lelaki yang kini jadi suamimu itu telah berhasil menaklukanmu. Aku mengenalnya. Dulunya ia penipu dan perbuatannya tidak baik. Semoga dengan bersamamu ia kini berubah. Asal kamu tahu saja, bahwa cintaku kepadamu tak pernah padam. Bahkan badai pun takkan sanggup membekukan bara cinta sejatiku kepadamu. Kuharap suatu saat kita bisa bertemu. Dalam keadaan yang lebih baik. Semoga kamu bahagia. Bersama ini kusertakan petunjuk jika sekiranya engkau masih ingin bertemu denganku suatu saat. Wassalam.”
Demikianlah gambaran ikatan janji manusia dengan Tuhannya di alam rahim. Tapi sayang, begitu lahir ke dunia, manusia seringkali tidak merasa bahwa ia pernah punya ikatan janji. Ia tak tahu siapa dan dimana Allah. Akhirnya, ia pun jatuh cinta kepada alam, kepada dunia. Tuhan Yang Maha Kasih mengetahui semua gerak-gerik manusia yang sudah menduakan cinta-Nya. Maka Dia mengirimi surat, namanya al-Qur’an. Di dalamnya terdapat pemberitahuan bahwa kekasihnya yang bernama dunia itu adalah tipuan belaka. Keindahannya sementara saja. Tawaran kenikmatannya semu. Yang sejati adalah kebahagiaan di akhirat dan pertemuan dengan Allah di akhirat nanti.
Jadi, telah jelas bahwa kualitas hidup orang yang beriman sangat berbeda dengan kualitas hidup orang yang tidak beriman. Yang pertama memenuhi janjinya untuk senantiasa menyambung tali kasih-sayang dengan Allah. Sedangkan yang kedua lalai dan acuh dengan perjanjian di alam rahimnya. Akibatnya, orang yang beriman masih mampu menyambungkan ruhnya dengan Allah sementara jasadnya dapat bergaul dengan sesama manusia dengan cara-cara yang baik dan luhur. Sementara itu orang yang tidak beriman, selain hubungannya dengan Allah terputus, pergaulannya dengan manusia mengarah pada kemaksiatan dan kejahatan yang merusak tatanan kemanusiaan.
Tidak hanya dalam kualitas hidup keduanya berbeda. Dalam hal menjelang mati pun tidak sama. Sewaktu sekarat, orang yang tidak beriman seakan-akan bertarung hebat dengan malaikat pencabut nyawa. Ketika malaikat hendak mencabut nyawanya, orang yang tidak beriman itu memberontak, menolak, dan melawan yang padahal menambah penderitaannya saja. Malaikat memukulnya dari depan dan belakang sebelum akhirnya manusia tadi menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara orang yang beriman mengalami dan menyambut sakaratul maut dengan senang dan gembira. Bahkan malaikat dengan sopan dan penuh hormat mempersilahkannya menuju tempat yang diidamkan semua orang, yaitu surga. Kenapa demikian? Sebab orang yang beriman itu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Nyawanya tidak akan dicabut sebelum tempat tinggalnya disurga nanti tampak jelas. Itulah rahmat dan karunia dari Allah SWT. Namun, bagaimana caranya agar manusia bisa mendapatkan rahmat yang seperti itu? Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami mereka menyungkur sujud, bertasbih serta memuji Tuhannya sedang mereka tidak menyombongkan diri, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan hara, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada merek. Seseorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk merekam, yaitu bermacam-macam nikmat yang menyebabkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan, maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik, atau kafir.”

Salah satu makna yang dapat dipetik dari ayat di atas adalah ciri kerendahan hati seorang muslim. Ciri itu adalah kalau dibacakan ayat Tuhan atau diperingatkan dengan ayat Tuhan, mereka tersungkur sujud dan bertasbih. Yang sujud tersungkur itu bukan hanya jasad, tapi lebih-lebih adalah ruh. Sujudnya ruh tidak sama dengan sujudnya jasad yang cukup menyungkurkan kening dan bibir di atas alas sajadah atau bumi. Ruh yang sujud itu adalah yang ruh yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji (mahmudah). Ruh yang melawan dorongan kebaikan adalah ruh yang tak bersujud meskipun keningnya masih menyentuh ujung sajadah. Misalnya ada seseorang yang diingatkan agar mencari nafkah yang halal. Tapi hatinya memprotes dengan mengatakan bahwa mencari yang haram saja susah apalagi yang halal. Dinasehati agar jujur dalam berdagang, malah melengos sambil mengatakan bahwa orang yang jujur tak mungkin bisa untung. Ruh yang seperti ini adalah contoh dari ruh yang tidak bersujud.
Ciri rendah hati yang lain adalah lambung yang jauh dari tempat tidur. Kenapa begitu? Sebab orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat tidur, artinya, mereka menyeru Tuhannya dengan penuh kesungguhan yang disertai harap-harap cemas, agar dikaruniai rahmat dari Allah SWT. Selain itu, mereka juga mengerjakan sholat malam dan membaca al qur’an di malam hari. Sebab malam hari adalah waktu yang lebih tepat untuk khusuk dalam beribadah.

Balasan bagi orang-orang yang memiliki ciri-ciri tersebut sungguh agung. Sebuah hadis pernah menyinggung bahwa orang yang gemar bertahajud, akan dibuatkan istana-istana di dalam surga, gedung-gedung yang megah, dan kebun-kebun yang indah. Bahkan sebelum nyawanya meninggalkan jasad, tempat tinggalnya nanti yang bernama surga sudah ditampakkan.
Sebaliknya orang yang tidak memiliki ciri-ciri tersebut dan bahkan menentang Allah, ia akan mengalami penderitaan yang tak putus-pustusnya. Nabi Ibris pernah melukiskan penderitaan sekaratnya orang-orang yang jahat. Menurutnya, penderitaan mereka lebih sakit dan pedih dua kali lipat daripada penderitaan kambing yang dikupas hidup-hidup. Rasa sakit orang yang beriman akan hilang karena ia telah melihat keindahan surga yang menjadi jatah dan haknya. Semoga kita semua termasuk golongan yang mendapakan rahmat dan karunia dari Allah yang berupa surga itu. Amien.


By : Buddy