Wednesday, May 10, 2006

Memimpikan Indonesia Sebagai Poros Dialog Peradaban

Jakarta (7/5), Islam di Asia Tenggara, dengan kepeloporan Indonesia, memiliki peluang yang paling baik untuk menjadi poros peradaban sebab watak toleran dan moderat dari Islam di Indonesia diyakini mampu belajar, menyerap, dan sekaligus berdialog dengan pelbagai kekuatan peradaban.

Rencana kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pada 10-11 Mei ini memperkuat keyakinan, bahwa Indonesia mempunyai posisi strategis dalam konteks peradaban dunia. Tidak hanya para petinggi negara-negara Barat yang melihat potensi Indonesia dalam agenda dialog peradaban. Republik Revolusi Islam Iran, sebuah negara yang dipersepsikan radikal dan dituduh sebagai poros setan pun, juga melihat posisi strategis Indonesia dalam konteks dialog dan diplomasi peradaban ini. Untuk itu, the sleeping giant yang bernama Indonesia ini harus segera bangun dan bangkit sebagai bangsa besar. Dengan kebangkitan itulah Indonesia akan mampu menjadi pusat gravitasi dialog peradaban dunia.

Kenapa Indonesia?
Negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini sebenarnya sangat potensial memainkan peran penting di dunia global. Akan tetapi pemerintah dan otoritas-otoritas yang berkompeten belum berinisiatif mengambil peran itu. Rendahnya inisiatif pemerintah terlihat dari pembangunan ekonomi yang masih berbasis pada hutang, terutama hutang luar negeri. Dan tak ada terobosan yang berarti untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kalangan masyarakat sipil juga mengidap penyakit yang serupa. Sinergi antar pemuka agama atau lembaga-lembaga non-pemerintah tak terlihat. Padahal semua itu penting untuk mengokohkan bangunan keindonesiaan, yang pada gilirannya, memperbesar kans Indonesia menjadi pusat gravitasi dialog peradaban dunia.

Namun demikian, semua itu tak menyurutkan peluang Indonesia untuk menjadi bangsa besar. Jumlah populasi yang besar dapat menjadi modal. Ditambah lagi dengan watak masyarakatnya yang toleran. Alvin Toffler, seorang futurolog, dalam sebuah ceramahnya di hadapan Muslim Melayu (Indonesia dan Malaysia) memperkuat optimisme ini. Sebagaimana dikutip oleh Dr. Mustafa Kamil Ayub (2000), ia mengatakan: You are here a test case for Islam. If you could develop your region, the center of Islam will move from the Middle East to this region. Kenapa Alvin Toffler tampak begitu optimis dengan Islam di kawasan ini? Tantu saja ada beberapa alasan. Di antaranya adalah berkaitan dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang unik.
Cak Nur pernah mencatat tiga karakteristik utama masyarakat Muslim berdasarkan iklim dan alam yang mengitarinya. Pertama, Desert Islam (Islam Sahara). Islam kategori ini berada di wilayah Timur Tengah (Arab) dan kawasan Afrika Utara (White African). Ciri utamanya adalah warna tribal yang kental dan cenderung agresif. Kedua, Savanah Islam (Islam Sabana). Kaum Muslim yang berasal atau tinggal di wilayah Persia, Pakistan, dan Afrika Hitam (Black African) termasuk model Islam Sabana ini. Umumnya mereka menyukai model dan praktik keagamaan yang estetik, gnostik, dan spiritualistik. Ketiga, Archipelagic Islam (Islam Kepulauan). Ini adalah Islam yang berkembang di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan.
Karakter keberagamaannya meski cenderung pasif tapi memiliki sikap yang toleran.

Meski pemilahan yang dilakukan Cak Nur tadi sangat bermanfaat, tapi ada beberapa wilayah yang luput. Sebagaimana diketahui bahwa Islamic hemisphere (belahan dunia Islam) tidak hanya tersebar di wilayah Arab, Afrika Sahara, Afrika Sub-Sahara, atau Melayu saja. Perlu dicatat juga penyebaran Islam di Asia Selatan (Pakistan-Bangladesh), Asia Tengah (eks Uni Soviet), Dunia Barat (Eropa dan AS), serta Islam di Cina. Semua memiliki potensi untuk menjadi pusat peradaban Islam yang koeksisten dengan peradaban-paradaban lainnya. Dari zaman klasik hingga modern peran itu berturut-turut dimainkan oleh Madinah, Damaskus, Baghdad, Mesir, Andalusia, Afrika Utara, dan terakhir Turki. Kini dunia Islam kehilangan pusat sekaligus orientasi peradabannya. Lalu, siapa yang paling potensial mengemban amanah untuk berinisiatif membangun peradaban itu?

Dunia Arab (Timur Tengah pada umumnya) di masa kontemporer tak bisa diharapkan. Selaras dengan karakteristiknya (yang tribal dan agresif), mereka selalu diwarnai dengan pusaran konflik yang tak berkesudahan. Lalu, apakah mungkin berharap kepada negeri-negeri Asia Tengah (Uzbekistan, Kazakhstan, dsb.) dan Asia Selatan (Iran, India, Pakistan)? Konsolidasi Islam di Asia Tengah belum maksimal pasca represi rejim komunis Uni Soviet. Negeri-negeri di Asia Selatan juga masih tak bisa dilepaskan dari lingkaran konflik tak berkesudahan, baik dengan negeri-negeri tetangga mereka maupun dengan dunia luar. Negeri-negeri di Afrika masih berjuang untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan politiknya. Dalam posisi yang seperti ini, maka Islam di Indonesia (plus Malaysia) sesungguhnya mempunyai peran yang sangat strategis.

Islam di Asia Tenggara, dengan kepeloporan Indonesia, memiliki peluang yang paling baik untuk menjadi poros peradaban. Ini tidak hanya didasari oleh karena Indonesia mempunyai jumlah populasi muslim terbesar di dunia. Utamanya adalah karena watak toleran dan moderat dari Islam di bumi pertiwi ini diyakini mampu belajar, menyerap, dan sekaligus berdialog dengan pelbagai kekuatan peradaban. Namun disadari bahwa modal karakteristik Islam yang seperti itu saja tidak cukup. Dibutuhkan konsolidasi pondasi-pondasi peradaban yang lebih intens dan konkret.

Penguatan Tiga aspek
Pertama, yang patut dicamkan adalah bahwa pembangunan peradaban dimanapun tak bisa dilepaskan dari konstruk filosofis (mode of thought) yang melandasinya. Revolusi Prancis menghasilkan rumusan filosofis; liberte, fraternite, dan egalite. Lain halnya dengan filosofi yang melandasi Revolusi Amerika. Dengan diilhami oleh White Anglo Saxon Protestan (WASP) yang nota bene mendasarkan diri pada etika Protestan, kaum imigran di AS merumuskan filosofi revolusi negeri barunya dalam slogan; life, liberty, dan pursuit of happiness.

Untuk konteks Indonesia, Pancasila sebagai landasan teologis (filosofis) bangsa ini harus dielaborasi dan dilaksanakan secara konsekuen. Inilah konsolidasi peradaban tingkat pertama. Sayang di aspek ini Indonesia tampak belum mempunyai kekuatan enforcement untuk mempraktikkannya. Kepercayaan kepada Tuhan lazim hanya berbuah ritus. Padahal bakti kepada Tuhan meniscayakan penghargaan setinggi-tingginya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kasus pelanggaran HAM yang tak tuntas dan berakhir pada impunitas pelakunya, menandakan tidak seriusnya kita dalam agenda kemanusiaan ini.

Amanah konsolidasi peradaban yang kedua adalah keharusan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ternyata cita keadilan sosial ini juga masih jauh dari kenyataan. Meningkatnya angka kemiskinan (mencapai 30% dari jumlah penduduk) dan pengangguran (BPS 2005: 10,24%) menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi di negeri ini masih dinikmati oleh segelintir orang saja. Membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar di pasar uang tidak seiring-sejalan dengan perbaikan taraf kehidupan ekonomi rakyat di tingkat riil. Oleh sebab itu, langkah kedua dalam konteks konsolidasi peradaban ini adalah dedikasi seluruh kegiatan ekonomi untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Indikatornya adalah berkurangnya kemiskinan dan pengangguran secara drastis.

Kemudian, konsolidasi peradaban yang juga harus diintensifkan adalah investasi sumber daya manusia melalui pendidikan. Peluang perbaikan sumber daya manusia Indonesia sangat terbuka bila anggaran 20% untuk pendidikan terealisasi. Hanya saja memang diperlukan perbaikan birokrasi terlebih dahulu agar dana yang diperkirakan mencapai 125 triliun rupiah itu tidak dikorupsi dan mencapai sasaran yang tepat. Kini, yang menjadi kendala bagi pembangunan sumber daya manusia ini adalah mahalnya biaya pendidikan. Orang miskin mempunyai akses yang sangat terbatas pada pendidikan yang baik. Padahal jumlah orang miskin makin meningkat saja.

Konsolidasi peradaban di tingkat filosofi, ekonomi, dan pendidikan adalah sebuah keharusan. Filosofi yang kokoh akan memandu sebuah peradaban ke arah peradaban yang agung. Sejarah mencatat keunggulan peradaban Yunani, Arab, India, Persia, Eropa hingga Cina yang berbasis kokoh pada bangunan filosofisnya. Penopang peradaban berikutnya yang tak kalah penting adalah ekonomi. Gairah industri dan perdagangan terbukti mampu menjadi penyangga utama peradaban di Eropa dan Amerika.

Di atas itu semua adalah perlunya memperkuat basis pendidikan. Dari sinilah penyegaran filosofi berbangsa bermula, ketrampilan dan profesionalisme diasah, serta karakter sebuah generasi dibangun. Sejarah kebangkitan Jepang dari keterpurukan Perang Dunia II membuktikan kekuatan pendidikan sebagai basis pembangunan peradaban. Lalu, bagaimana dengan kita? Wallahua`lam bis shawab.

By : Syifa A.W

Sunday, May 07, 2006

Tangan

Tangan...
Tangan adalah medium...
Dimana kreatifitas...
Kasih sayang...
Bisa terungkapkan...
Melalui tangan kita berkesenian...
Berbudaya...
Melalui tangan kita berinteraksi..
Bersosialisasi...
Jadi Bersyukurlah...
Melalui tangan...
Tuhan kita telah menganugerahi...
Tangan-tangan mungil...
Untuk melahirkan...
Karya-karya seni...
Jadi jagalah tangan...
Karena ia adalah titipan...


By : Buddy

Dia

Dia yang ku sayangi
Dia yang ku kasihi
Dia yang ku cintai
Dia yang ku kagumi
Dia yang ku pujai

Tuhan...
Mengapa kau ciptakan dia
Dia yang begitu sempurna
Hatiku seakan luluh ketika
Aku memandanginya

Tuhan...
Jiwaku ingin berontak
Hatiku ingin teriak
Jantungku keras berdetak
Nurani ku ingin bergerak
Ketika ku ingat dia

Tuhan...
Aku sudah tak tahan lagi
Untuk menyimpan hati ini
Seakan ingin ku ungkapi

Tuhan...
Aku pencinta yang semu
Mencintai yang belum tentu
Hingga membuat hatiku
Menjadi tak menentu

Tuhan...
Apakah dia seperti aku
Menyayangi aku
Mangasihi aku
Mencintai aku
Mengagumi aku
Memujai aku

Mei 07, 2006


By : Buddy

Friday, May 05, 2006

May Day di 3 Mei

Jakarta (3/5), Aksi Memperingati May Day dilakukan oleh puluhan ribu buruh yang berasal dari berbagai daerah tumplek di Ibukota. Aksi mereka sudah semakin menjurus ke anarkis. Aksi ini dipicu kekecewaan para buruh atas sikap pemerintah, yang dinilai tidak mendengar hati nurani buruh dan tetap akan merevisi Undang-Undang 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Ditambah lagi satatemen dari Wapres dengan pernyataanya yang kontoversial cenderung memancing buruh untuk berbuat lebih anarkis. Dengan rencana Undang-Undang Ketenagakerjaan itu, pemerintah dianggap condong membela pengusaha, tidak membela kepentingan kaum buruh.

Kekecewaan itu mereka lampiaskan dengan merobohkan pagar pembatas jalan TOL di depan gedung DPR dan mencabut pohon-pohon di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Dampak dari aksi demo yang sudah mengarah anarkis itu, jelas saja membuat warga Jakarta takut keluar kantor maupun keluar rumah. Pasalnya, dari pagi hingga sore hari lalu lintas di kawasan Jalan Gatot Subroto, mulai dari depan Gedung LIPI hingga POLDA Metro Jaya lumpuh total. Sehingga Polisi harus memblokir jalan dari bunderan Semanggi hingga kawasan Palmerah. Semua kendaran yang akan melalui depan gedung DPR jalan Gatot Subroto dialihkan ke jalan Sudirman.

KALAU kita amati, revisi UU 13/2003 tentang ketenagakerjaan dari kacamata pemerintah, untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Sedangkan dari kalangan buruh, menolak revisi UU tersebut. Pasalnya, tingginya biaya produksi bukan karena pengeluaran untuk buruh, melainkan akibat birokrasi yang tidak efisien. Kalangan buruh menuding birokrasi dan pengusaha yang korup, sebagai penyebab utama kemunduran ekonomi.

Dari 133 pasal naskah Revisi Undang Undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terdapat beberapa pasal kontroversial, di antaranya Pasal 35, kontroversi revisi pasal 59, kontroversi pasal 155, kontoversi revisi pasal 156, pasal 158 dan kontroversi pasal 167. Pasal pasal kontroversial itu, membela kepentingan majikan daripada buruh, sehingga menyulut amarah kaum buruh.

Dengan modal berhimpun, kaum buruh punya kekuatan dan berupaya mempertahankan Undang Undang no 13 tahun 2003, dari usaha revisi yang diajukan pemerintah atas desakan para pengusaha dan investor. Dengan mempertahankan Undang Undang yang ada saja, nasib mereka masih bisa terkatung-terkatung, apalagi dengan revisi Undang Undang Ketenagakerjaan yang lebih memihak kepada majikan.

Masalah tenaga kerja nampaknya menjadi kerikil kerikil tajam bagi Pemerintah untuk investor masuk. Karena dinilai sangat penting tentang revisi Undang Undang Ketenagakerjaan itu, awal April sudah masuk ke DPR. Targetnya, sebelum akhir tahun sudah diberlakukan.

Dengan adanya kontroversi yang tajam, antara pemerintah dan pengusaha di satu pihak dan buruh di pihak lain, memicu iklim yang buruk. Baik DPR sampai Presiden SBY, tidak berani menanggung resiko dan memilih memihak kepada kaum buruh. Meski rencana revisi bakal dicabut, pemerintah mendukung pemberian hak-hak yang adil bagi tenaga kerja.

Dari sini kita mengambil kesimpulan, agar tidak terjadi ketidakadilan, antara kepentingan majikan dan buruh, maka pemerintah harus adil dalam melindungi kepentingan mereka. Dengan demikian, tidak ada lagi demo buruh yang mengarah ke anarkis. Wallahua'lam bis shawab.


By : Buddy

Pemikiran Islam: Menjemput Renaissans Ketiga

Prawacana; Sebuah Sketsa Biografis

Sejarah itu mengandung penalaran kritis (nazhar)
dan usaha mencari kebenaran (tahqiq).

(Ibnu Khaldun)

Sebuah komunitas Intelektual muda mencoba untuk mengada (dasein) di tengah-tengah episteme (cara melihat realitas) dan wacana (cara membicarakan realitas) 'baru' dalam setting pemikiran Islam serta dalam kancah percaturan intelektual di HMI.

Wacana; Napak Tilas Kebangkitan Menuju Renaisans Ketiga

"Aku Protes terhadap Eropa dan daya tarik Barat
Celakalah Eropa dan pesonanya
Segera tawan, dan lucuti senjata Gerombolan Eropa dengan bara dan api
Pencilkan dari pergaulan dunia
Hai Arsitek Tempat-tempat suci
Dunia menunggu pembangunan kembali
Bangunlah
Bangunlah dari tidur lelap
Bangunlah dari lena sekejap"

(Muhammad Iqbal)

Inisiasi kebangkitan di masa depan selalu diiringi oleh memori kolektif tentang kejayaan di masa lalu. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk cermin (ibrah) dan spirit (ghirah) untuk terus melecut kreativitas-prestatif menjemput fajar kebangkitan yang dijanjikan. Karena kemajuan bukan melulu berorientasi pada firdaus masa silam, melainkan pergulatan pada realitas kekinian dengan horizon kemasadepanan. Struktur triadik inilah; firdaus masa silam, realitas kekinian dan kearifan masa depan harus terus dipertautkan. Namun begitu masa lalu bukanlah untuk dilanggengkan, tetapi untuk direkonstruksi; masa depan bukan untuk dilamunkan, tetapi untuk dipersiapkan; dan masa kini tidak mungkin dikembalikan ke masa lalu atau diajukan ke masa depan, tetapi merupakan tempat persemaian ketiga medan perlawanan sebagaimana yang dinyatakan Hassan Hanafi, yaitu kritis terhadap tradisi lama, kritis terhadap Barat dan kritis terhadap realitas kita dengan mengubah dan mengembangkannya, bukan malah menjauhinya. Ingatlah bahwa hantu gentayangan yang menggelayuti umat Islam sekarang bukanlah hantu komunisme maupun hantu fasisme, tapi suatu momok baru yang lebih menakutkan yaitu impotensi Islam di tengah kapitalisme para penganutnya.

Seruan Iqbal dalam sebuah wacananya adalah obor pergulatan kekinian dengan horizon kemasadepanan yang harus sudah matang dipersiapkan dalam 'mazhab gerak' kita. Kita memang perlu berguru kepada Iqbal dalam sikap optimisme terhadap kejayaan umat Islam di masa yang akan datang. Ia bercita-cita membangun kembali Islam dengan kejayaan dan kesederhanaannya sambil menghadapi tantangan dari ilmu pengetahuan modern dan filsafat. Ilmu pengetahuan dan filsafat modern hanyalah perluasan dari kebudayaan Islam. Saat ini Barat meminjam prinsip-prinsip petunjuk Islam untuk kepentingan intelektual dan ilmu pengetahuan mereka, sehingga kita selalu mempertanyakan, kenapa kita harus mengambil petunjuk dari Barat? Seharusnya umat Islam haruslah setia dan bertanggung jawab pada jiwa ajaran Islam, yang menurutnya "paling berkembang, paling ilmiah, dan yang paling alami dibandingkan Ilmu-ilmu yang lain di dunia."

Kadang kala umat Islam sendiri jarang memikirkan mengapa saat ini umat Islam tidak termotivasi dan terinspirasi oleh semangat perubahan ilmuwan Islam pada masa lalu. Dimana ilmuwan Islam pada waktu itu selain melakukan koreksi-kritis terhadap dominasi trend filsafat Yunani. Seharusnya kita menggali dan mengapresiasi peradaban gemilang umat Islam ini dan bukan larut dan terpesona pada penelitian dan studi pemikiran ilmuwan-ilmuwan Barat yang sebenarnya mereka pada awalnya mencontek dari pemikiran Islam, karena orang Islam yang terlebih dahulu mempelajarinya. Walaupun dengan pongahnya Barat kemudian meremehkan dan mencibir konstribusi umat Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Iqbal mencoba menawarkan solusi terhadap bagaimana caranya membangkitkan kembali keinginan belajar pada umat Islam? Ia nampaknya sudah menyusun sebuah program, dimana langkah awalnya adalah mengidentifikasi karya asli para ilmuwan Islam baru kemudian menyebarkan jiwa murni Islam dalam pemikiran religius-filsafat Islam pada orang Islam itu sendiri. Untuk tujuan ini Iqbal menggambarkan kebutuhan pendidikan dan pelatihan generasi muda Islam dalam bidang filsafat Islam, sejarah Islam, teologi Islam dan yurisprudensi Islam seperti halnya dalam pemikiran Barat modern. Generasi muda ini harus menguasai dan terspesialisasi dalam studi tentang pemikiran Yunani, Islam dan Barat.

Menjemput renaissans ketiga, yang tiada lain adalah sebuah optimisme yang sudah seharusnya kita miliki sebagai kader HMI dan umat Islam pada umumnya. Semangat ini harus menjadi obor yang tak pernah redup dipancangkan dalam setiap "mazhab gerak." Istilah renaissans biasanya dirujukkan kepada perhatian terhadap khazanah intelektual Yunani yang dianggap sebagai biangnya pemikiran rasional-filosofis. Sehingga renaissans pertama harus diidentifikasikan kepada renaissans Islam yang ditandai oleh maraknya penterjemahan warisan klasik Yunani pada abad ke-9 dan awal abad ke-10 atau abad ke-3 dan ke-4 Hijriah. Proses penterjemahan ini pada gilirannya menjadi bahan dasar (raw material) bagi pembentukan sintesis-sintesis agung yang dilakukan oleh Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan Mulla Shadra. Renaisans kedua adalah renaisans Barat pada abad ke-14 hingga abad ke-16, dimana ribuan karya-karya besar ilmiah dan filosofis muslim diterjemahkan secara besar-besaran sehingga memicu dan mengilhami Renaissans di Eropa. Seandainya Eropa dulu tidak berkiblat ke Islam maka terjadinya revolusi ilmiah yang sekarang menandai peradaban Barat modern tak mungkin akan pernah terbayangkan. Dan Renaissans ketiga, setelah Arab dan Eropa tentunya kita berharap akan terbit di negeri kita ini dan kader HMI harus menjadi pelopornya, sebagaimana telah diramalkan oleh mendiang Fazlur Rahman, bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang akan muncul bukan di dunia Arab, melainkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia. Dan kemungkinan untuk meraih Renaisans ketiga ini sangatlah besar, mengingat tersedianya khazanah intelektual Islam yang sangat luas dan terbentangnya pemikiran ilmiah dan filosofis Barat di hadapan kita. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa peluang emas ini tidak bisa terjadi hanya dengan sikap menunggu saja, melainkan harus dijemput, karena kalau tidak kita mungkin akan kehilangan peluang emas ini untuk selama-lamanya.

Laksana; Tadarus Atlas Pemikiran dan Epistemologi Islam

"Aku ada karena aku bergerak
bila kuberhenti aku pun mati"
"Manusia adalah ombak yang selalu bergerak,
ia bukanlah pantai yang selalu diam"

(Muhammad Iqbal)

Dengan sederet narasi di atas maka kita dalam alam kesadaran akan kekinian dengan menelaah berbagai metodologi dan pemikiran Islam kontemporer. Adapun epistemologi Islam ini didasarkan pada pemikiran bahwa paradigma keilmuan kita sekarang adalah paradigma tahafut (incoherence). Paradigma keilmuan Barat yang mencekoki kita dibangun di atas simpton paradigma keilmuan tahafut al-falasifah. Demikian juga tradisi keilmuan dunia Islam sekarang disinyalir sebagai ikon dari tahafut a-tahafut. Diagnosa tahafut ini ternyata bersumber dari anthrax pikiran atau HIV (Human Intelligence Virus) yang menimbulkan AIDS (Acquired Intelligence Deficiency Syndrome) akibat dari sekularisme dan saintisme yang menjadikan kacamata empirisme sebagai kacamata penjelas universal atas realitas wujud.

Dari kenyataan di atas, tentu saja kita memerlukan terapi epistemologis menuju keselarasan pengamatan empiris, pemikiran rasional, dan pengalaman spiritual, ketiganya memiliki kesepaduan paradigmatik dalam dua ranah; teoretis dan praktis. Kesepaduan teoretis menyatukan al-ilm, al-hikmah, al-kitab atau sains-filsafat-agama (QS. An-Nisa':113). Sedangkan kesepaduan praktis adalah al-kitab, al-huda dan al-ilm atau agama-etika-teknologi (QS. Luqman:20). Dengan kajian intensif dan tematis tentu kita akan menguak selubung epistemologis yang bisa membukakan selimut kalbu (almuzammil) dan kerudung akal (al-Muddatsir) menuju kebangkitan (al-Qiyamat) atau Renaisans ketiga?

Problema; Sebuah "Mazhab Gerak" yang Terlelap

"Tanda seorang kafir adalah ia larut dalam cakrawala dan tanda seorang mukmin adalah bahwa cakrawala larut dalam dirinya"

(Muhammad Iqbal)

Postwacana; Secercah Asa yang Membentang

"Saya persembahkan tulisan ini
untuk setiap orang yang mau berubah,
lalu bergerak, melompat dan menciptakan hal-hal baru"

(Hassan Hanafi)

Penutup

Lipatan totalitas wacana di atas menyiratkan pada pembangunan epistemologi yang holistik. Yang menjadi pertanyaan dalam tulisan ini, sanggupkah umat Islam merebut Reanaisans ketiga? Hanya umat Islam sendirilah yang dapat menjawab tantangan tesebut. Dus, wacana yang bisa menjadi lembaran berikutnya adalah persentuhan agama yang merupakan tonggak peradaban masa lalu dengan sains yang merupakan tonggak dan lokomotif peradaban modern. Demikian juga perlu ditumbuhkembangkan kajian-kajian multidisipliner sehingga sains tidak menjebak dirinya pada parsialitas realitas, namun merupakan bangunan holistik-dialogis antar wilayah kebudayaan dan peradaban manusia; misalnya, dialog antar filsafat dan sains, filsafat, agama dan sains, fislafat dan kebudayaan kontemporer dan sebagainya. Wallahu 'alam Bish Shawab.

By : Buddy

Realita Diknas: Guruku Sayang, Guruku Malang (Hari Pendidikan Nasional)

NESTAPA lama para guru yang mengajar di Jakarta, khususnya, sudah mulai terobati. Gaji mereka naik, dan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bagaimana dengan guru yang bukan pegawai negeri sipil atau dosen sekalipun, apakah mereka juga memperoleh 'kenikmatan' baru tersebut? Di luar mereka, masih banyak yang terpaksa mengurut dada sembari tetap berdoa agar nasib merekapun segera berubah.

Kenaikan gaji guru sudah lama diperbincangkan. Berbagai argumentasi rasional dipaparkan dengan begitu apik, tetapi validitas faktual yang membenarkan kemutlakan ke­naikan gaji bagi para pendidik itu tak pernah dapat direalisasikan. Hampir semua rezim yang berkuasa di negeri ini pernah berjanji untuk memperhatikan dan memperjuangkan nasib guru. Dengan seabrek apologi, janji-janji itu masuk ke tong sampah. Nasib guru tetap tidak berubah. Gaji mereka tetap kerdil, dan kesejahteraan morat-marit. Kita menyambut hangat keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menaikkan gaji guru. Keputusan ini akan memotong mata rantai dilema besar dunia pendidikan kita. Selama ini pendidikan kita berkutat di antara dua karang: gaji guru yang kecil di satu sisi dan kualitas pendidikan yang rendah di sisi lain.

KUALITAS pendidikan rendah akibat guru yang tidak bermutu. Guru tidak bermutu ekses dari gaji yang kecil. Bagaimana mungkin orang yang berkualitas baik memasuki dunia pendidikan kalau gaji yang bakal mereka terima mini. Kalaulah kemudian generasi muda kita memilih profesi ini, kita mengasumsikan pilihan itu sebagai sebuah keterpaksaan. Dan, rata-rata mereka yang terjun ke dunia ini bukan yang terbaik di kelasnya. Mereka yang berkualitas tentu akan memilih melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, manakala gaji guru tinggi dan sudah memadai dilihat dari aspek pemenuhan kebutuhan hidup, niscaya generasi muda yang berkualitas akan cenderung memilih profesi ini sebagai pilihan utama. Dengan demikian ada harapan untuk mengubah wajah kusam dunia pendidikan kita. Kualitas pendidikan secara pasti bakal dapat diperbaiki karena guru dengan mudah mampu menerje-mahkan program dan kurikulum pendidikan. Guru yang mumpuni akan dengan sendirinya dapat mengembangkan bahan pengajaran dan media pembelajaran yang berkualitas pula.

Sisi positif ini sudah lama dipresentasikan, namun meski mulut sudah berbusa-busa menerangkannya, terpinggiran profesi ini masih belum juga dapat dibenahi. Pemerintah selalu punya dalih untuk menunda perbaikan nasib guru. Terhadap keputusan Pemda DKI menunjukkan common sense-nya kepada guru kita patut memberi apresiasi. Cuma bagaimana dengan nasib guru yang lain. Guru honorer, guru bantu, guru TK, dan guru lainnya yang ada di daerah? Ini persoalan yang belum terpecahkan.

Persoalan lain, setelah struktur gaji diperbaiki, terkait dengan jenjang karir guru. Kita juga melihat persoalan ini masih menyisakan residu yang tidak kalah paradoks. Bukan rahasia umum lagi, tidak sedikit guru yang berprestasi tetapi jenjang karirnya tidak berkembang. Sementara ada guru yang prestasinya di bawah rata-rata justru memperoleh promosi jabatan. Ketidakjelasan dalam skema karir para guru ini juga bisa berpengaruh terhadap kinerja dan spirit pengabdian. Kita tidak menghendaki guru berkualitas kehilangan gairah hanya karena ketidakjelasan jenjang karir. Semua hal harus mendapat penataan ulang, jika kita concern sepenuhnya untuk memperbaiki nasib guru dan dunia pendidikan kita. Wallahua'alam bis shawab

By : Buddy

Pergeseran "Paradigma Pendidikan" (Menyambut Hari Penididkan Nasional)

Membangun paradigma pendidikan yang benar dalam konteks kekinian adalah merupakan salah satu tuntutan didalam proses penyelesaian persoalan sistem pendidikan nasional yang merupakan salah satu bagian dari sistem keindonesiaan. Problematika keilmuan pada saat ini, hilangnya nilai- nilai ke- Tuhanan pada konteks keuniversalitasan bangunan keilmuan yang merupakan pondasi dasar proses pendidikan, akhirnya sangat memberikan pengaruh besar terhadap proses pendidikan bangsa kita. Proses pendidikan bangsa, tidak lagi mampu memberikan proses pencerdasan nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Terbukti oleh adanya keterpisahan pemahaman, atau cara pandang terhadap pendidikan formal (sekolah, kuliah) dan pendidikan informal (lembaga-lembaga kemasyarakatan). Predikat pendidikan hanya mampu dimiliki oleh mereka yang kebetulan punya kesempatan bersentuhan dengan institusi pendidikan (pendidikan formal), sedangkan mereka yang kebetulan tidak punya kesempatan untuk bersentuhan dengan Institusi pendidikan (pendidikan formal) terkadang harus menerima predikat Orang yang tidak berpendidikan, Lebih fatalnya lagi hal tersebut dianggap sebagai sebuah aib.

Keterpisahan paradigmapun, bukan hanya sampai pada tingkatan antara pendidikan formal maupun informal, bahkan sampai pada muatan nilai pendidikan, yaitu intelektualitas, spiritualitas maupun emosionalitas yang merupakan variable untuk memberikan muatan kualitas pendidikan. Hal ini menyebabkan institusi pendidikan harus kehilangan orientasinya dalam rangka melakukan proses pencerdasan nilai kemanusiaan masyarakat. Proses pendidikan yang dilakukan oleh institusi pendidikan seharusnya merupakan ordinat didalam mendorong terjadinya perubahan sistem keindonesian yang lebih baik lagi seperti yang dicita- citakan oleh masyarakat indonesia, bukannya malah mempolitisasi pendidikan. Pendidikan akhirnya menjadi salah satu instrumen oleh para elite politik, pejabat serta "kaum pemodal" untuk mempertahankan proses eksploitasi, baik eksploitasi sumber daya manusia (SDM) maupun eksploitasi sumber daya alam (SDA). UU No. 60 Thn. 1999 merupakan bukti, dimana institusi pendidikan dikatakan telah menjadi badan usaha milik bangsa, yang artinya institusi pendidikan harus menyetor kepada negara bukannya mendapatkan subsidi pendidikan.

Centralisasi pendidikan ternyata masih dipertahankan oleh pemerintah kita dalam hal ini oleh dinas yang terkait yaitu Dinas pendidikan Nasional (Diknas), terbukti bahwa kurikulum pendidikan bangsa kita harus tetap mengacu pada keputusan mentri (Kepment No 155 Thn... ). Hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan undang- undang otonomi daerah serta undang- undang otonomi kampus. Dimana ruang gerak atau ekspresi maupun kreatifitas untuk mengembangkan kualitas proses pendidikan yang benar-benar sesuai dengan potensi lokal akan mengalami keterpasungan. Dalam konteks budaya, centralisasi pendidikan juga memunculkan terjadinya centralisasi budaya (Monistik budaya) pengajaran, adanya dominasi budaya yang baik sadar ataupun tanpa sadar memaksakan satu budaya. Lebih dari itu tentunya juga mengakibatkan munculnya centralisasi kebenaran, kebenaran yang harusnya relative pada tingkat manusia akhirnya dipahami secara mutlak.

Sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan terhadap realitas dunia pendidikan hari ini, dimana telah terjadi pergeseran "paradigma pendidikan" ditingkat masyarakat bangsa kita. Baik masyarakat elite, menengah maupun masyarakat bawah (kaum awam: red). Hal ini diakibatkan adanya problem dalam cara pandang masyarakat kita terhadap pendidikan itu sendiri, pendidikan hampir tidak pernah dilihat dari sudut pandang yang lebih holistik (keseluruhan) atau pendidikan ditinjau dari sudut pandang pendidikan itu sendiri. Fenomena yang berkembang dalam cara pandang masyarakat terhadap pendidikan malah sering kali cenderung materealistik, sehingga membentuk pola hidup yang akhirnya juga cenderung individualistik. Apa- apa yang dimiliki dalam "kesuksesannya" dianggap hasil dari usahanya sendiri, kerja kerasnya sendiri dan yang lebih parah maunya dimiliki sendiri. Terlupa bahwa, "kesuksesesan" yang kita raih pasti juga dipengaruhi oleh variable-variable diluar diri kita, terlebih variable nilai transendental (ketuhanan). Hal ini kemudian yang menyebabkan terbentuknya miniatur egoisme "kepemilikan" yang sering kali memberikan pengaruh terhadap penurunan kualitas diri yang kemudian menyebabkan munculnya potensi konflik dalam bangunan sosial kemanusiaan kita.

Pergeseran "paradigma pendidikan" sebetulnya juga sangat dipengaruhi oleh bangunan keilmuan (sains) yang ada dalam sistem pendidikan nasional kita. Memang, harus diakui bahwa pengaruh dari sejarah perkembangan keilmuan zaman Romawi, Yunani sampai Islam memberikan kontribusi positif maupun negatif terhadap peradaban dunia. Karena semuanya tergantung dari manusia itu sendiri untuk memanfaatkan ilmu, apakah untuk tujuan eksploitasi ataukah untuk tujuan kemakmuran Bumi. Pembicaraan yang sangat menarik sebetulnya ketika pendidikan ternyata sangat punya kaitan dengan bangunan keilmuan. Dapat kita lihat dalam catatan sejarah perkembangan keilmuan, betapa dalam sejarah perkembangan keilmuan memberikan hikmah terhadap kita, bahwa proses pendidikan sebetulnya tidak pernah terdikotomikan dengan bangunan keilmuan dan dimana bahwasanya bangunan keilmuaan juga tidak pernah terdikotomikan antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Seperti contoh, sosok Ibnu shina yang ahli dalam ilmu kedokteran tapi juga seorang filosof, Enstein yang dalam eksperimennya terhadap keberaturan Alam semesta akhirnya mengakui bahwa pasti ada "Master Designer" yang mengatur keberaturan Alam semesta ini dan masih banyak tokoh yang lainnya. Artinya, bahwa dalam proses pendidikan yang dialami haruslah mampu memberikan nilai kecerdasan kemanusiaan yang lebih holistik, mendapati konsep "kebenaran" baru yang empiris dan yang lebih penting semakin meningkatkan keyakinan terhadap nilai- nilai ketuhanan.

Lain halnya dengan apa yang berkembang dalam proses pendidikan bangsa kita, yang ternyata telah mereduksi makna pendidikan itu sendiri. Pendidikan tidak lagi bermakna "pendidikan" yang mempunyai muatan holistik (intelektual, spiritual, emosional) tapi lebih bermakna pada megahnya miniatur institusi pendidikan, politisasi pendidikan dan komersialisasi pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya manusia yang nantinya mampu untuk lebih membawa martabat serta derajat bangsa, memberikan kewibawaan bangsa yang mempunyai tradisi intelektual, yang bukan malah membanggakan tradisi korupsi. Hal yang sangat memprihatinkan sekali ketika memaknai pendidikan hanya sekedar saja, sekedar sekolah, sekedar kuliah pada akhirnya juga nantinya akan memunculkan manusia yang hanya "sekedar manusia". Manusia yang tidak memahami akan tanggung jawab kemanusiaannya secara individu maupun sosial, secara vertikal maupun horizontal. Inilah potret wajah dunia pendidikan bangsa kita yang ternyata sangat jauh sebetulnya dari orientasi pendidikan. Banyak pengakuan orang- orang yang menganggap dirinya berpendidikan tapi sesungguhnya tidak cukup "berpendidikan". Kenapa...? sebab pendidikan tidak hanya identik dengan keberadaan kita di institusi pendidikan saja, tapi juga identik dengan bangunan moralitas, akhlak, etika, estetika dan juga logika. Pendidikan mempunyai orientasi proses pencerdasan nilai kemanusiaan yaitu nilai ntelektualitas, spritualitas juga emosionalitas. Jadi kita berhak untuk mengklaim diri orang yang "berpendidikan" ketika kita benar- benar merasa mempunyai kualitas kecerdasan yang holistik.


Penutup

Dalam rangka menyambut hari Pendidikan Nasional marilah kita mengevaluasi kembali pergeseran "paradigma pendidikan" harus segera disadari oleh setiap stake holder bangsa ini, baik itu kaum elite, menengah maupun masyarakat bawah. Kesadaran terhadap betapa pentingnya proses pendidikan adalah merupakan salah satu variable didalam menyelesaikan persoalan bangsa. Sentuhan terhadap pergeseran paradigma pendidikan merupakan langkah awal dalam mengawali perubahan sistem pendidikan nasional bangsa kita. Sebab, harus diakui bahwa sistem pendidikan nasional bangsa kita belum mampu untuk memberikan muatan kecerdasan yang lebih holistik. Seperti jargon tentang pendidikan yang berbasis kompetensi, sebetulnya hal itu belum relevan dengan realitas pendidikan nasional kita. Karena belum ada kurikulum yang benar- benar punya relevansi terhadap produktifitas Sumber daya Alam, contohnya dan masih banyak lagi yang lain. Sehingga perlu setiap pihak yang merasa resah dengan problematika pendidikan untuk berperan aktif dalam melakukan kampanye terhadap keprihatinan pendidikan bangsa. Wallahua'lam bis shawab


By : Buddy