Saturday, September 09, 2006
Keterlaluan Ga' Sih?
Menkes mantu dengan pesta megah, bikin jembatan es senilai Rp 250 juta
Anda ingin jadi saksi sebuah pesta pernikahan termahal tahun ini yang digelar oleh birokrat? Hadiri dan liput acara pesta pernikahan putra Menkes Fadilah Supari di Hotel Dharmawangsa Jakarta, mulai pukul 19.00 WIB. Atau Anda ingin punya pengalaman hidup tiada duanya: meniti jembatan es senilai Rp 250 juta yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya?
Menurut rencana, malam ini (Sabtu, 26/8), Menkes Fadilah Supari akan
menikahkan putranya, Jody Imam Prasodjo, dengan seorang gadis bernama Ayu Harsuci. Putra? Ya betul, putra, bukan putri! Jody baru saja diwisuda dari sebuah perguruan tinggi swasta termahal di Indonesia. Usai akad nikah di Perumahan Menteri Jl. Denpasar Raya, malam ini ia bikin pesta megah di Hotel Dharmawangsa Jakarta.
Sebelumnya, keluarga Menkes sudah pesan tempat di Balai Kartini, namun karena venue tersebut tak bisa dipakai untuk membangun jembatan es, pesanan dibatalkan. Dalam sejarah perkabinetan sejak masa Orba, baru satu menteri yang tercatat menggunakan Ballroom Hotel Dharmawangsa yang bertarif mahal untuk pesta perkawinan, yaitu mantan Mentamben Ginandjar Kartasasmita. Namun, biaya pesta pernikahan pesta putra Menkes ini memang tak semahal pesta ulang tahun Sultan Brunei Hasanal Bolkiah, cuma menghabiskan duit sekira Rp 15 miliar saja.
Sebulan lalu panitia tebar sekira 4.000 lembar undangan yang dikemas mewah, dan dipastikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, serta beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu akan setor muka di pesta nan mewah tersebut. Mereka akan jadi saksi sebuah perhelatan terakbar di negeri yang punya banyak hutang ini.
Mereka akan lupakan sejenak virus flu burung, lumpur panas Lapindo, jeritan korban gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan balita kurang gizi, serta perut lapar kaum papa. Peduli apa mereka dengan jeritan rakyat tiap harinya?
Sudah menjadi tradisi di negeri ini, kalau ada Menteri mantu, karyawan
departemen dilibatkan sepenuhnya. Orang-orang dinas di daerah juga ikut sibuk, 'saweran' dan todong kiri kanan atas bawah untuk beli kado yang pantas dipersembahkan ke Jakarta. Dalam tradisi kerajaan masa lalu, itu setara dengan upeti.
Artinya selama kurang lebih dua bulan sebelumnya, mereka harus dan kudu sibuk mengurusi persiapan untuk pesta itu. Telpon sana telpon sana minta sumbangan buat menambal biaya pesta. Dari beberapa perusahaan farmasi macam Kimia Farma, Biofarma, dan lainnya paling tidak terkumpul miliaran rupiah. Artinya, selama ini mereka - para birokrat - tak mengurusi pekerjaan utamanya yaitu mengabdi untuk kepentingan rakyat agar bisa hidup lebih sehat. Apa itu rakyat? I don't care!
Berikut antisipasi tanya jawab yang sudah disiapkan oleh Menkes apabila ada pertanyaan dari rekan-rekan wartawan:
Tanya:
Bu Menkes, negeri ini lagi susah, kenapa Ibu bikin pesta semegah ini?
Menkes:
Ya memang, saya ikut prihatin dengan kondisi negeri ini. Tapi harus
diingat ya, pernikahan kan Insya Allah cuma sekali seumur hidup. Jadi
wajar dong kalau dipestakan dengan meriah. Bukan karena 'aji mumpung' ..bukan karena aku menjabat jadi Menteri lho ya....(bukan Aji mumpung kali??Mumpung Aji dapet sabeetan gede kali?!ato Ibu ini ga mau kalah yah sama pernikahan Siti Nurhaliza yang biayanya Milyaran, mentang-mentang nama depannya sama!hehehe...)
Tanya:
Bu Menkes, sesuai tradisi di Indonesia, pihak mempelai pria sebenarnya tak perlu repot-repot bikin pesta dan tetek bengek lainnya. Kenapa yang memestakan kok pihak Ibu?
Menkes:
Maaf ya, menantu saya itu dari keluarga kurang mampu, jadi tak mungkin bisa bikin pesta meriah. Jadi nggak salah dong kalau saya yang kebetulan mampu ikut memestakan.(Duh sungguh mulia hati Ibu satu ini masih mau ber- menantukan keluarga kurang mampu, hiks.... T.T ..terharu!)
Tanya:
Duit untuk membiayai pestanya dari mana Bu?
Menkes:
Ya dari tabungan saya pribadi dong. Kalau ada yang menyumbang, asalkan ikhlas, nggak masalah tho?(ari gene ada yang mo nyumbang Ikhlas?emang Ibu anak Fakir Miskin ya pake di kasih sumbangan?)
Tanya:
Memang jumlah tabungan Ibu berapa Rupiah dan berapa Dollar AS? Di bank mana saja?(hmm...jangan-jangan di Bank Swis juga ada nih! mo coba nyusul eang Kangkung yach Bu?!)
Menkes:
Wah, itu rahasia dong! Ndak elok kalau pamer-pamerkan..(hmm.. jangan-jangan ketakutan yah Bu uang sabetan di Depkes-nya gede?!)
NB: Ternyata negeri ini di pimpin oleh pemimpin-pemimpin yang tidak ber-OTAK (senese of crisis) seperti Ibu kita ini!!!ga' sanggup menanggulangi flu burung mendingan mundur saja Bu!
Friday, August 25, 2006
Ah, Meneketehe!
Mak Wati asal Cirebon adalah penjual rokok pinggir jalan. Kiosnya terletak di pinggir Jalan Mendut, Menteng, Jakarta Pusat. Sudah 53 tahun ia berjualan rokok di kawasan itu. Mulanya, tahun 1953 saat mulai mengadu nasib ke Jakarta ia berjualan di pinggir Jalan Diponegoro. Tahun 1980-an, Tramtib Pemda DKI Jakarta melarangnya berjualan di pinggir jalan utama. Ia pun memindahkan kiosnya masuk ke jalan mendut, sekitar 50 meter dari Jalan Diponegoro.
"Itu liat aja orang-orang yang sekarang udah punya jabatan," lanjut Mak Wati. "Contohnye..
Lho, kok Mak tahu soal orang itu? "Yeeee, kita kan nonton tipi (televisi). Pejabat pemerintah jangan macem-macem deh kelakuannya. Orang-orang sekarang tuh udah nonton tipi semua. Kita biar cuma warung kecil gini juga punya tipi," sahut Mak Wati panjang lebar.
Ia mengaku paling kesal kalau ada orang bicara politik dengan membawa-bawa agama. "Sekarang itu jamannya agama dijual. Ngomongin ini pake bawa agama. Ngomongin itu bawa agama juga. Sampe orang minta-minta aja sekarang bawa-bawa agama. Bawa-bawa kotak bilangnye dari yayasan ini itu. Aduh, udah nggak jelas deh," jelas dia.
Wah, Mak kok ngomongnya politik terus sih? "Tadi kan udah dibilangin, kita punya tipi!" jawabnya.
Mak, yakin nggak kalau pemerintahan sekarang bisa memperbaiki situasi? "Ah, meneketehe! (manakutahu)
Tuesday, August 15, 2006
Posisi Indonesia Terhadap Agresi Israel
Gerakan Bom Jihad di Pontianak mengklaim telah mengirimkan 70 relawan. Beberapa organisasi masih terus membuka posko-posko pendaftaran jihad untuk diberangkatkan. Yang jelas sudah bergerak adalah tiga relawan kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Mereka menyalurkan 1,1 milyar rupiah dari masyarakat Indonesia untuk para korban perang di Lebanon. Bila pemerintah terus bersikap lunak, gumpalan emosi masyarakat untuk membantu rakyat Lebanon dan Palestina tidak mendapatkan katarsis. Harapan dan emosi mereka potensial menjadi gerakan yang lebih radikal dan tidak terkendali.
Modal Indonesia
Memang pemerintah telah mengecam agresi Israel dan siap mengirimkan pasukan perdamaian untuk misi perdamaian. Namun demikian, itu saja tidak cukup. Bahkan komitmen yang tampaknya positif itu bisa menjadi blunder. Apa jadinya bila yang dimaksud pasukan perdamaian itu hanya melucuti senjata Hezbollah secara sepihak sementara pasukan Israel tidak ditarik ke belakang 'garis biru'. Itu sama artinya dengan membiarkan pasukan Israel bercokol di wilayah Lebanon. Kehadiran pasukan perdamaian menjadi muspra. Lalu, apa alternatifnya?
Pembukaan konstitusi dan arah politik luar negeri Indonesia jelas mengamanahkan perlunya partisipasi atau prakarsa pemerintah dalam mewujudkan perdamaian dunia secara bebas dan aktif. Dalam praktiknya, Indonesia pernah memprakarsai gerakan kemerdekaan dan perdamaian dunia melalui Konferensi Asia Afrika 1955 yang menghasilkan Gerakan Non-Blok. Gerakan ini berhasil merangsang kemerdekaan di beberapa negeri dan membuat keseimbangan baru dunia di luar bandul Blok Barat dan Blok Timur. Belakangan Indonesia juga dipercaya berperan aktif dalam lembaga-lembaga baru PBB seperti, Dewan HAM PBB, Peace Building Comission, dan Democracy Fund's Advisory Board. Seharusnya modal ini dapat membuat pemerintah percaya diri menjadi pemain utama dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Dengan modal seperti itu pula, kecaman pemerintah terhadap Israel dan kesiapan mengirim pasukan perdamaian terasa terlalu lunak. Biasa-biasa saja. Apalagi negara-negara lain, kecuali AS dan Inggris, melakukan hal yang sama. Indonesia semestinya dapat berbuat lebih banyak. Di antaranya adalah melobi AS agar menekan Israel dan yang tak kalah pentingnya adalah mendorong terwujudnya persatuan Arab dalam konteks menghadapi Israel. Ini penting karena tak ada yang disegani Israel kecuali AS. Sementara Lebanon dan Palestina tidak bisa berharap bantuan banyak selain kepada saudara-saudaranya di Dunia Arab. Barangkali akan muncul pertanyaan, kalau lembaga-lembaga internasional saja tidak mampu melobi pihak-pihak yang bertikai, apakah Indonesia bisa berbuat banyak?
Dua Poros Lobi
Kalaupun Indonesia tidak mungkin menekan Amerika Serikat sendirian, upaya itu dapat ditempuh melalui pelbagai cara. Salah satunya melalui PBB, khususnya Dewan HAM PBB. Indonesia sebagai salah satu dari 47 negera anggota Dewan HAM PBB seharusnya mampu menggalang lobi untuk menekan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, komunikasi dan forum negara-negara Non-Blok juga bisa dioptimalkan.
Negeri Paman Sam ini harus diyakinkan bahwa kebijakannya di Timur Tengah kontraproduktif bagi perdamaian dunia. Kampanye perang melawan teror yang dikumandangkannya bisa hancur karena makin maraknya sentimen anti-AS dan radikalisme. Kaum moderat yang disponsorinya juga makin tersudut karena dianggap tidak punya keberpihakan dan sensitifitas kemanusiaan. Lebih dari itu, national interest Amerika sendiri banyak yang dirugikan akibat dukungan tanpa batasnya kepada Israel.
Penelitian John Mearsheimer dari Chicago University dan Stephen Walt dari Harvard University dalam The Israel Lobby (LRB, Vol. 28 No. 6, 23 Maret 2006) menunjukkan betapa sokongan AS kepada Israel justru berdampak buruk terhadap kepentingan nasional Amerika. Tingkat kebencian dan sikap antipati terhadap Amerika makin hari makin meningkat dan meluas. Sementara Israel semakin bebas memperluas wilayahnya dan meneguhkan superioritasnya di Timur Tengah. Amerika Serikat sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan ketika sebagian negara Arab memberi fasilitas kepada Amerika untuk menyerbu Irak, Israel tidak memberikan sejengkal tanah pun kepada AS untuk dijadikan pangkal militer. Ringkasnya, tidak pernah dalam sejarahnya Israel membantu Amerika Serikat secara ekonomi, politik, maupun keamanan.
Lebih jauh kedua ilmuwan berpengaruh di AS itu juga mendedahkan kenapa Israel tetap menjadi faktor paling menentukan dalam pengambilan kebijakan luar negeri AS. Menurut keduanya, kekuatan lobi Israel di tingkat eksekutif maupun yudikatif sangat kuat. Dipelopori oleh AIPAC (The American-Israel Public Affairs Committee) dan The Conference of Presidents of Major Jewish Organisations, lobi-lobi Israel sangat menentukan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah. Hasilnya tentu saja selalu menguntungkan pihak Israel.
Kekuatan lobi inilah yang tidak dimiliki oleh negara-negara pro-Palestina dan Lebanon ketika berhadapan dengan AS. Padahal bila kekuatan lobi Israel dapat dikalahkan dan pemerintah plus publik Amerika dapat diyakinkan bahwa kebijakan di Timur Tengah berdampak buruk bagi negerinya, tidak tertutup kemungkinan mereka mau berubah haluan. Kebijakan baru dibuat. Israel didesak menarik pasukannya dari Lebanon dan melakukan gencatan bersenjata tanpa syarat. Pasokan senjata pun dihentikan.
Lobi terhadap Amerika Serikat ini harus diimbangi dengan soliditas negara-negara Arab baik dalam menghadapi AS maupun Israel. Persatuan Arab yang terkoyak setelah kalah menghadapi Israel tahun 1948-1973 perlu direvitalisasi kembali. Indonesia dan negara-negara di Islam di luar Arab dapat memediasi persatuan Arab ini. Baik melalui OKI ataupun forum-forum lain yang memadai. Sebab sulit mengharapkan persatuan Arab dengan mengandalkan kesukarelaan dan kesedaran mereka sendiri. Polarisasi mazhab, kelompok, kabilah, atau kesukuan menjadi ganjalan yang berarti. Kelompok Sunni sulit berdampingan dengan kelompok Syi'ah. Mereka yang pro-Barat, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Jordania enggan bersikap sama dengan mereka yang anti-AS, seperti Iran dan Suriah. Indonesia bersama negara lain (misalnya Malaysia dan Brunei Darussalam) mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendudukkan negara-negara Arab itu di satu kursi untuk melawan Israel. Alangkah kuat dan kerasnya tekanan Arab jika negara seperti Arab Saudi, Mesir, Jordania, Suriah, plus Iran bersatu memaksa Israel mundur dari Lebanon. Amerika dan Israel pasti berhitung dibuatnya. Wallahua'lam bis shawab.
By : Syifa Amin W
Wednesday, August 09, 2006
Seorang Kawan
Perjalanan hidup manusia memang serba tak terduga. Siapa yang bisa menyangka, Mardin, kawan yang terkenal royal pada masa kuliah tiga tahun yang lalu, kini setelah tiga tahun menikah dan sudah punya dua orang anak, jangankan untuk menraktirku menonton film di bioskop seperti yang selalu ia lakukan seusai menerima gajinya di setiap awal bulan, untuk membeli sebatang rokok pun kini ia harus pikir-pikir. Pakaiannya pun kelihatannya sudah lusuh dan mungkin tidak pernah diganti dengan yang baru. Sinar matanya redup menandakan kelelahan yang sangat dalam pergulatan hidup yang keras. Ada apa dengan kawan ini? Itulah pertanyaan dalam batinku, ketika aku bertemu dengannya di rumah kontrakanku setelah dua tahun lamanya aku tak berjumpa dengannya.
Sore itu seusai shalat ashar, aku mengetik skripsiku yang hampir rampung di ruang tamu kontrakanku. Lapat-lapat kudengar suara dua orang laki-laki yang rasanya pernah aku kenal dekat. Radius suara itu makin dekat saja ke tempatku. Pintu masih tertutup. Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu dan berucap: "Assalamu'alaikum." Aku beranjak dari depan komputer, sambil berjalan, "Wa'alaikumussalam", dan kubuka pintu. Betullah ternyata dugaanku. Dua laki-laki muda berdiri di depan pintu: Rizal dan Mardin. Rizal tidaklah mengejutkan bagiku. Setiap minggu aku biasa berkunjung ke tempat kostnya. Seperti aku, dia pun masih kuliah dan belum memutuskan untuk cepat-cepat berkeluarga. Tapi Mardin, mengapa dia datang dengan wajah buram seperti ini?
"Masuk, masuk. Lama tak berjumpa, nih. Bagaimana kabar?" kataku.
"Beginilah. Sudah lama tinggal di sini?" balasnya.
"Sudah. Sudah hampir setahun. Bagaimana kabar isterimu, anak-anakmu?"
"Baik. Sehat," jawabnya singkat.
Setelah puas mengobrol dan bernostagia hingga menjelang maghrib, aku persilahkan mereka untuk mandi. Setelah itu kami berjamaah di Mesjid yang dekat dari kontrakanku.
Usai shalat maghrib, Rizal minta izin untuk pulang. Ternyata Mardin turut meminta izin pulang juga. Kusarankan kepada mereka, menginap saja di kontrakanku. Jika pun tidak, paling tidak Mardin sendiri, sebab sudah lama tidak berjumpa. Apa salahnya dia bermalam di sini hanya untuk semalam, begitu jalan pikaranku berkata. Tiba-tiba Mardin memintaku berbicara dengannya di sudut Masjid. Ada apakah?
"Dai, sebenarnya aku ada perlu denganmu," katanya agak-agak segan, "Bisa kau bantu aku? Aku butuh uang untuk membayar kontrarakan tempat tinggal kami. Yang punya kontrakan sudah mencoba-coba meneror isteriku, jika tak dibayar pekan ini, ia memastikan akan mengusir paksa kami. Aku kasihan kepada situasi psikologis isteriku. Dia sangat tertekan sekali."
Aku terperanjat dengan perkataannya ini. Sungguh tak kuduga orang yang dulu berpantang meminta tolong kepada orang lain itu, kini seakan bersimpuh di hadapanku mengharap moga-moga aku memberikan jalan keluar baginya. Aku belum percaya dengan perkataannya itu. Mana bisa aku percaya ada perubahan sikap setajam ini padanya. Kawan yang dulu kukenal ini adalah orang yang tegar dan pantang membikin tangan di bawah. Egonya merasa terhina jika sempat ia melakukan itu. Pernah suatu ketika dia kekurangan uang untuk membayar rekening listriknya. Tak sedikit pun ia mencoba meminjam uang kepadaku, kendatipun ia tahu aku punya uang untuk itu. Sebagai kawan yang juga tempat kostnya berdekatan, apa salahnya ia melakukan itu. Saat itu aku pun tak berinisiatif menawarkan bantuan kepadanya, karena kutahu ia tak akan menerima tawaranku. Bisa-bisa ia menafsirkan dirinya sebagai beban orang lain saja. Kalau sudah seperti itu, harga dirinya akan terusik. Dengan cekatan ia dapatkan uangnya dari menarik angkot yang ia pinjam sehari dari teman sekampungnya. Tapi mengapa tiba-tiba sekarang ia berubah? Inilah yang tidak kumengerti itu.
"Berapa perlunya, Din?" tanyaku. Aku sengaja tak mencoba menanyakan ketidakmengertianku kepada sikapnya yang berubah itu. Kupikir-pikir, apa gunanya aku menanyakan hal itu kepadanya. Bisa-bisa ia menjadi malu dan mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan kepadaku.
"Aku butuh lima puluh ribu rupiah lagi. Dua ratus ribu sudah ada," katanya.
Aku terdiam sejenak. Mengapa cuma perlu lima puluh ribu rupiah, jauh-jauh datang kemari? Tidak bisakah kawan ini mencarinya di tempat lain seperti yang ia lakukan waktu dulu? Sebelum aku mengiyakannya, ia melanjutkan bicaranya:
"Sudah sebulan ini aku tak punya kerjaan. Kios buku yang kami buka di pasar Jatinegara itu, sudah hancur. Tak ada lagi yang tersisa di sana. Entah siapa yang membakarnya. Padahal sumber hidup keluargaku seratus persen berasal dari sana," katanya dengan pilu, "Aku terpukul sekali dengan musibah ini. Sungguh tak pernah kubayangkan, akan terjadi seperti ini. Aku belum melunasi semua utang-utangku ke distributor. Kini tanpa berperasaan mereka menagih semua utang-utang itu. Aku sudah coba jelaskan duduk persoalannya kepada mereka. Tapi mereka tidak mau tahu dengan keadaan itu. Akhirnya terpaksa aku melelang motor dan beberapa perhiasan isteriku. Tak ada lagi yang tersisa sekarang selain mungkin beberapa peralatan masak."
Tanpa berpikir panjang kuberikan keperluannya itu, meskipun uang di dompetku menjadi tersisa dua puluh ribu rupiah. Spontan aku melupakan keperluanku untuk seminggu ke depan yang tidak mungkin ditalang dengan tenaga uang sebanyak dua puluh ribu rupiah. Namun rasanya puas sekali dapat membantu orang seperti kawan ini. Dengan raut wajah penuh terima kasih, akhirnya Mardin permisi untuk pulang dan kedua kawan ini meninggalkanku di sudut Masjid dalam keadaan pikiran gundah.
* * *
Mardin adalah kawan seangkatan di masa kuliah dulu. Sama-sama aktif di gerakan ekstra unversitas. Saya masih ingat perannya saat memimpin barisan mahasiswa dalam menumbangkan pagar pengaman di depan gedung DPR/MPR sehingga para mahasiswa dengan leluasa dapat menyerbu masuk ke dalam gedung rakyat itu. Mungkin kalau pers jeli dalam mencatat kronologi pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa pada tahun 1998 itu, kiranya peristiwa itu menjadi story tersendiri dalam aksi penumbangan rezim Soeharto tersebut. Saat itu, sebagai kordinator lapangan, betapa gagahnya dia bentrok dengan para aparat yang kala itu masih dalam garang-garangnya. Tidak lama setelah itu, dia pun memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihannya. Saya ikut menemaninya melamar calon isterinya kepada orang tua gadis itu. Setahun kemudian aku baru bertemu lagi dengannya kala syukuran kelahiran anak pertamanya. Masa itu kelihatan kehidupan ekonomi keluarganya masih sehat-sehat saja.
* * *
Suatu petang, sebulan lebih kurang setelah kedatangannya yang pertama ke rumah kontrakakanku, dia datang kembali. Kali ini dia hanya datang seorang diri. Aku sebenarnya tidak merasa nyaman dengan banyaknya dia mengeluh tentang nasib keluarganya. Dikatakannya, isterinya mengalami radang tenggorokan karena meminum air fasilitas rumah kontrakan mereka yang tidak memenuhi standard kesehatan. Untuk ke Puskesmas memeriksa dan mengobatinya, mereka tidak punya uang. Ujung-ujungnya dia memintaku supaya memberikan bantuan kepadanya.
Selepas shalat maghrib aku meminta untuk ikut pulang bersamanya sekaligus ingin menengok keadaan keluarganya. Terutama aku ingin sekali melihat jagoannya yang sudah lancar merangkak seperti yang ia ceritakan itu. Di dalam perjalanan menuju rumahnya, setelah kuberikan tiga lembar sepuluh ribu rupiah seperti yang dimintanya, aku utarakan rencanaku hendak menikah dalam waktu dekat ini. Kuceritakan juga profil calon isteriku kepadanya. Dia antusias sekali mendengar rencanaku itu. Pendeknya ia akan mendukung dengan segala kemampuan yang ia miliki. Bila perlu, seperti tawarannya, ia bersedia menjadi piar dalam proses pernikahan kami.
Setibanya di rumah kontrakannya yang mungil, waktu sudah menunjukkan pukul 21. 00 WIB. Berarti hampir tiga jam di perjalanan dari tempatku ke tempatnya. Hal itu wajar saja, karena tiga kali ganti angkot baru sampai ke tempat tinggalnya. Pintu terbuka, kulihat isteri dan anak-anaknya sedang bercengkerama di ruang tamu. Mardin memberitahukan kedatanganku kepada isterinya.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar," kataku kepada isterinya.
"Wa'alaikum salam," sahutnya datar.
Kugendong jagoannya yang menggemaskan itu. "Dialah yang membuat semangatku tidak pernah padam dalam hidup ini," kata Mardin sambil menatap jagoannya yang montok. Sedang putrinya yang pertama, terlihat agak malu-malu kepadaku. Tidak cepat akrab seperti adiknya.
Isterinya sudah siap menghidangkan makan malam dengan tumis kangkung ala kadarnya. Kemudian ia mempersilahkan kami untuk mencicipi masakannya. Aku pun sudah lapar, langsung saja kusantap yang terhidang di hadapan kami. Entah mengapa makan secara bersama nikmatnya terasa lebih dibanding dengan makan sendirian. Inikah namanya barakah?
Malam itu, sebelum mataku terpejam, pikiranku menerawang sampai ke langit-langit kamar tidur yang diterangi lampu pijar 25 watt. Mengapa selalu saja ada yang tidak adil dalam kehidupan ini? Apa kurangnya kawan ini, tapi mengapa rezekinya begitu payah? Sayup-sayup setengah berbisik kudengar percakapan Mardin dengan isterinya. "Besok kamu ke Puskesmas saja. Ini ada sedikit uang untuk keperluan itu," katanya kepada isterinya. Hatiku teriris dengan percakapan itu. Ya, Tuhan, betapa menyedihkannya kesulitan yang dialami kawan ini. Aku teringat dengan cerita-cerita sekolompok masyarakat yang menghabiskan uang dua sampai tiga juta rupiah dalam beberapa jam saja pada moment malam tahun baru yang lalu. Betapa kontrasnya kehidupan ini! Andaikan uang yang dihamburkan itu diberikan kepada kawan ini, alangkah bermanfaatnya. Tapi mana mungkin timbul pikiran seperti itu pada mereka. Akhirnya segalanya terbawa ke alam mimpi. Paginya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi dalam mimpiku, selain ngilu sayatan yang dalam kurasakan dalam hatiku karena rekaman pesta pora para selebriti dan orang-orang pemburu kenikmatan hidup.
By : Syahrul ED
Saturday, August 05, 2006
Pagi,
Keheningan hati tercabik oleh luka tak berperi
Guruh membahana bersama kelamnya surya,
Namun mentari itu tak pernah pergi
Seperti bintang yang tak lelah untuk bersinar,
Berpijar memberi terang, pada hati yang dilanda bimbang
Di bawah pohon asam disela deru kendaraan perang. Dua anak manusia bercengkrama dalam keheningan. Mereka berbicara dari hati yang tak pernah sepi. Hati yang senantiasa dihiasi kidung-kidung indah serta rentak jantung yang bertalu bagai melodi kehidupan.
Intan : "lihatlah rara, sepertinya tuhan sedang murka, tidakkah ia lelah mendengar tangis anak manusia?"
Rara : "entahlah intan mungkin apa yang kamu pikirkan itu benar atau mungkin juga salah, karena hidup penuh dengan segala kemungkinan. Lagipula sepertinya air mata kita semua sudah kering dengan segala petaka yang kita terima"
Intan : "sampai kapan kepedihan ini terus menghantui kehidupan kita Ra?"
Rara : "Tan hidup hanyalah sebuah pilihan dan bahagia sedih derita serta kehampaan adalah sebuah rasa yang bertahta dalam hati dan jiwa.
Yang Terserak
Kalau saya berbicara tentang penyatuan antara agama dan ilmu pengetahuan, yang saya maksud bukan kesamaan metode, melainkan persamaan wawasan subyek dan dimensionalitas yang diteliti. Pendekatan agamawi jelas berbeda dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah diarahkan ke dunia materi, ke dunia luar, dunia fenomenal dengan cara ekstroversi. Pendekatan agamawi adalah petualangan ke dunia dalam, ke lubuk kesadaran humanistik itu sendiri, ke dunia noumenal, dengan cara introspeksi.
Kedua cara ini tidak kompetitif melainkan komplementer. Hal ini berarti bahwa kedua-duanya harus dilakukan secara berimbang.
Schumacher menyatakan bahwa inti dari kesadaran (eling) itu adalah "self awareness" atau pengenalan diri. Itulah inti ajaran Budhisme yang dianut oleh Schumacher. Alghazali , seorang filosof Islam mengatakan bahwa "mustahil orang yang tidak mengenal dirinya bisa mengenal Allah". Islam selanjutnya mengajarkan bahwa isi dari pengenalan diri adalam iman, taqwa dan tauhid.
Eling sebagai manifestasi tingkat keperibadian (existential state) terjadi dalam proses meditasi atau membiarkan pikiran atau keseluruhan keperiadaannya mencapai suatu keadaan dimana manusia bisa menangkap hakekat maknawi keperiadaannnya: pengenalan diri. Eling itu sendiri meruapakan dasar keperiadaan insani, yang bersumber langsung pada Allah.
Hanya dalam keadaan eling kita bisa memperoleh bimbingan Ilahi secara langsung, kita bisa mengalami sifat Ilahiah, yang tercermin dalam iman, taqwa dan tauhid. Taqwa menunjukkan kualitas iman, yang berarti manusia sadar akan tugas dan kewajibannya; tauhid menunjukkan pada pengalaman batin, pengalaman mengalami sifat-sifat Ilahi. Wallahu'alam
By : Anonim
UNDANG-UNDANG 45 HASIL AMANDEMEN TIDAK SAH
- Kata Indonesia merupakan suatu kata yang menunjukkan suatu kesatuan geopolitik, geografis srta geobudaya. Indonesia pertama kali dikenal dalam istilah pembagian dan asal-usul ras yang di dunia. Dalam pembagian ras Indonesia merupakan suatu ras yang berada di kepulauan yang terletak di Asia bagian tengggara yang membentang dan meliputi gugusan pulau-pulau dari pulau Crithmast (Tempat Pengungsian di Australia) yang berada di lintang selatan sampai dengan pulau Formosa (China Taiwan) di lintang utara dan gugusan pulau-pulau yang ada di sebelah timur pulau Mandagaskar dan sebelah barat pulau Ambon. Pengelompokan gugusan pulau tersebut didasarkan pada penghuni pulau tersebut, yang mendiami pulau tersebut mempunyai kesamaan ciri-ciri yakni berkulit sawo matang yang berambut lurus dan berasal dari keturunan ras kulit kuning.
- Akan tetapi seiring dengan perkembangan politik wilayah tersebut, dimana daerah tersebut merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam, sehingga mendorong bangsa-bangsa lain untuk menguasai daerah tersebut. Dengan pembagian wilayah jajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropah membuat kesatuan ras Indonesia terkotak-kotaknya menjadi beberapa wilayah jajahan sehingga kesamaan ras bukan lagi sebagai faktor pengikat terbentuknya wilayah.
- Seiring dengan perkembangan paham Nasionalisme di Eropah membuat kaum muda mempunyai semangat untuk mengusir penjajah. Keinginnan terpatri dalam dada anak muda untuk bersatu yaitu satu Tanah Air Indonesia, Berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia dan yang ketiga berbahasa satu yaitu bahasa Indoensia
- Sejak adanya sumpah pemuda tanggal 28 oktober 1928 maka kata indonesia mengalami perubahan geografi dan geopolitik yang mengikuti faktor kesamaan nasib dan penderitaan, melainkan kesamaan nasib dan penderitaan: sama-sama mengalami penderitaan akibat penjajahan yang dilakukan Bangsa Belanda.
- Dan sekarang wilayah Indonesia menurut kesepakatan konverensi meja bundar di negeri Belanda, wilayah Indonesia membentang dari kota Sabang di Pulau Weh sampai kota Merauke di pulau Papua. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki wilayah yang cukup luas dengan sumberdaya alam yang melimpah ruah.
- Pengesahan UUD 45 tonggak sejak perjalan bangsa.
Tonggak Perjalanan
- Berlakunya UUD RIS
- Gagalnya pembentukan konstituante
- Dekrit Peresiden tahun 5 Juli 1950
- Pemilah Umum pertama di Indonesia
- Kondis pemerintahan rezim Soeharto
- Runtuhnya rezim Soeharto maka dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh gerakan mahasiswa. Peluang untuk kembali menjadikan gerakan mahasiswa sebagai pelopor gerakan perubahan sosial sangat dimungkinkan, caranya adalah sebagai berikut; Pertama, Gerakan mahasiswa harus kembali mendekatkan diri kepada rakyat yang dibela, dengan kapasitas intelektual, gerakan mahasiswa harus bergabung dengan kekuatan masyarakat sipil, agar wacana perubahan yang dimiliki bisa sejalan dengan perubahan masyarakat. Kedua, Gerakan mahasiswa harus mampu mengarahkan masyarakat kearah perubahan sosial yang benar. Ketiga, Gerakan mahasiswa harus menghilangkan sekat-sekat perbedaan ideologi dan secara terus menerus melakukan konsolidasi sipil –demokratik.
- reformasi merupakan konsep perubahan masyarakat Pada sisi kedua Revolusi Sistemik berupaya untuk tetap mengarahkan transisi demokrasi pada arahnya yang benar, sebuah tatanan sosial, kultural dan politik yang berbasis pada nilai-nilai kebaikan, keadilan dan kesejahteraan. Dalam konteks ini Revolusi Sistemik mengehendaki instrumen politik kenegaraan yang telah mengalami kontaminasi oleh kepentingan neoliberal harus disingkirkan. Strategi yang ditempuh adalah mendorong dilakukannya Cut Generation dan Pembentukan Dewan Presidium Nasional.
- Amandemen UUD 45
- Kelemahan amandemen UUD 45
- Tidak sahnya UUD 45 hasil perubahan ke empat
- Peresiden SBY-JK tidak sah sebagai presiden dan wakil prsiden
- Perlunya pembentukan Dewan Presidium segera untuk memperbaiki kondisi bangsa.
By : Buddy
