Friday, July 21, 2006

MENGAIS WAJAH AGAMA DI TENGAH KEDIGDAYAAN SAINS

Mukaddimah

Tema di atas merupakan refleksi dari buku Huston Smith[1] yang terjemahan Indonesianya berjudul "Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains". Dalam buku tersebut Huston Smith meletakkan relasi sains dan agama sebagai konflik zero-sum. Dalam pandangannya, wilayah dan otoritas sains harus dibatasi untuk memberikan tempat bagi agama.

Smith berpendapat bahwa sains dan saintisme tidak baik bagi kita sejak awalnya, bahkan kemunduran agama dalam masyarakat kita dapat dilacak dari kelahiran sains modern. Tampaknya Smith beranggapan bahwa masyarakat Barat telah memainkan permainan zero-sum dalam urusan dengan agama dan sains. Semakin banyak sains meraih prestasi kultural, semakin banyak agama kehilangan peran. Untuk membalik kecenderungan ini, secara konsekuen, seseorang harus menyingkirkan pengaruh sains. Kita yang hidup dalam peradaban sains sekarang, dianggap oleh Smith sedang berada dalam zaman menolak-beriman (Age of Disbelief) seperti subjudul bukunya.

Pendekatan dan Bentuk Relasi Agama dan Sains

Sebelum membicarakan lebih jauh tentang relasi agama dan sains saya ingin mendeskripsikan beberapa studi pendekatan yang biasa dilakukan untuk menjelaskan tentang relasi agama (baca: Islam) dan sains. Pertama, memperbincangkan bagaimana Islam menjadi spirit bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini biasanya sangat normatif dengan menunjukkan tekstualitas al-Qur'an terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua, memperbincangkan bagaimana konstribusi orang Islam terhadap perkembangan ilmu secara historis. Ketiga, memperbincangkan tentang kondisi mutakhir ilmu pengetahuan dan implikasinya terhadap orang-orang Islam, serta pembahasan mengenai berbagai macam antisipasinya. Keempat, memperbincangkan secara kritis, secara falsafi, hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan. Kelima, memperbincangkan konsep tentang ilmu yang dianggap islami, serta langkah-langkah pragmatis Islamisasi yang diperlukan.

Tidak banyak yang membicarakan pendekatan yang keempat sebagaimana yang dipaparkan di atas. Bahkan perbincangan ini kemudian ditarik kepada isu Islamisasi sains sebagaimana yang ramai diperbincangkan dalam akhir dekade yang lalu. Banyak varian dalam mendeskripsikan pola pemikiran islamisasi sains kontemporer. Hanna Jumhana Bastaman melakukan mapping mind terhadap bentuk islamisasi sains yang berkembang akhir-akhir ini dengan beberapa bentuk.[2] Pertama, bentuk similarisasi, yaitu menyamakan secara simplistis antara konsep sains dengan konsep agama, seperti mengidentikkan konsep nafs al-ammarah, nafs al-lawwamah dan nafs al-muthmainnah dari al-Qur'an dengan konsep id, ego dan super ego-nya Sigmund Freud.

Kedua, bentuk paralelisasi, yaitu adanya paralelisasi antara konsep sains dengan agama tanpa harus mengidentikkan keduanya. Misalnya menjelaskan Isra' Mi'raj paralel dengan perjalanan ruang angkasa dengan menggunakan rumus fisika S = v.t (jarak sama dengan kecepatan kali waktu), di ana faktor velocitas = tidak terhingga. Bentuk paralelisasi ini sering digunakan sebagai scientific eksplanation atas kebenaran ayat al-Qur'an dalam rangka menjabarkan syiar Islam kepada kelompok masyarakat tertentu.

Ketiga, bentuk komplementasi, yaitu antara sains dan agama saling mengisi dan melengkapi satu dengan yang lainnya, tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Misalnya manfaat puasa ramadhan untuk kesehatan dan lain sebagainya. Keempat, bentuk komparasi, membandingkan antara konsep sains dan konsep agama mengenai gejala-gejala yang sama. Misalnya teori motivasi dalam ilmu dibandingkan dengan konsep motivasi yang dijabarkan dalam ayat-ayat al-Qur'an.

Kelima, bentuk induktivikasi, yaitu asumsi-asumsi dasar dari teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empiris dilanjutkan pemikiran teoretis abstrak ke arah pemikiran metafisika/ghaib, kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama, misalnya tentang 'sumber gerak yang tak tergerakkan' dari Aristoteles, merupakan contoh proses induktivikasi dari pemikiran sains ke pemikiran agama.

Keenam, bentuk verifikasi, yaitu mengungkapkan hasil-hasil temuan penelitian ilmiah yang menunjang dan mebuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur'an. Misalnya, penelitian mengenai potensi madu sebagai obat yang dihubungkan dengan surat an-Nahl: 69, dan hadits "lazimkanlah memakai dua 'macam obat', yaitu al-Qur'an dan madu".

Beberapa Tesis tentang Relasi Agama dan Sains

Kembali kepada permasalah mendasar yang dipaparkan di awal tulisan ini, benarkah kebenaran sains yang dianggap representasi kebenaran terbaik alam ini bertabrakan dengan kebenaran universal yang di turunkan langsung oleh Tuhan berupa agama? Bukankah agama (Kitab suci) dan sains (Kitab Alam) keduanya berasal dari Tuhan Yang Satu.

Tesis pertama menjawab bahwa ada kerancuan (tahafut) paradigmatik dari sains modern. Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientifik Revolutions, menyatakan bahwa teori dan data dalam sains bergantung pada paradigma, yaitu seperangkat pra-anggapan konseptual, metafisik, dan metodologis dalam tradisi kerja ilmiah.

Sains modern ditengarai menganut paradigma positivisme. Positivisme adalah buah dari empirisme David Hume, Francis Bacon, Rene Descartes sampai pada ramalan the end of historis-nya Auguste Comte dengan tiga tahapan sejarahnya yaitu: teologis, metafisis dan positivis. Positivisme meyakini bahwa masyarakat akan mengalami kemajuan apabila mengadopsi total pendekatan sains.

Kalau kita melakukan ciri-ciri dari positivisme adalah sebagai berikut. Pertama, bebas nilai, yaitu adanya dikotomi antara fakta dan nilai (subyek-obyek). Kedua, fenomenalisme, yaitu pengetahuan yang absah adalah fenomene semesta. Ketiga, nominalisme, yaitu memfokuskan diri pada yang individual-partikular sehingga universalisme bukanlah kenyataan. Keempat, reduksionisme, yaitu semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat dipersepsi. Kelima, naturalisme, yaitu paham tentang keteraturan alam menisbikan penjelasan adikodrati. Dan keenam, yaitu menganggap bahwa semua gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal determinis seperti layaknya mesin.[3]

Tesis kedua menjawab bahwa secara metodologis, sains memiliki kerancuan fundamental, yang bersumber pada metafisikanya sendiri sehingga kerap tampak menyudutkan agama. Pandangan seperti ini dianut oleh Seyyed Hossein Nasr yang berpandangan kritis terhadap sains modern. Menurut Nasr, sains tidak dapat mengklaim universalitas dan obyektivitas karena ia-meski jarang diakui-dilandaskan pada metafisika tertentu. Lebih jauh, metafisika inilah yang pada dasarnya kerap bertentangan dengan kebenaran-kebenaran yang diakui agama. Sebagai akibatnya, apa yang tampak sebagai konflik antara temuan-temuan empiris sains dan agama sesungguhnya bersumber pada metafisika ini.

Kritik Nasr terutama berkaitan dengan sifat sekuler sains modern, yang tak mengakui kenyataan ilahiah, dan posisinya sebagai sumber ilmu. Lebih jauh, sains modern dianggap melakukan penindasan epistemologis dengan cara tak mengakui cara-cara pandang lain terhadap alam, termasuk yang ada dalam aama. Kepercayaan akan realitas diluar yang empiris pun dianggap mitos atau takhayul belaka.

Bagi Nasr, penerimaan atas teori yang sepenuhnya didasarkan pada fakta (tanpa perlu menerima penafsiran tertentu) perlu dilanjutkan dengan pemberian penafsiran yang sesuai dengan pandangan dunia Islam. Inilah proses yang disebut oleh Nasr sebagai "integrasi sains ke tingkatan ilmu yang lebih tinggi". Sebagai seorang perennialis Nasr mengkritik para teolog yang menurutnya, sering terlalu silau oleh sains modern dan terburu-buru menyesuaikan diri dengan temuan-temuan baru.

Tesis ketiga menjawab bahwa ada semacam kesalahan pada sisi aksiologis dari sains. Habermas dalam bukunya Knowledge and Human Interest (1968) mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan kepentingan tidak bisa dipisahkan. Kriteria bebas nilai yang dicanangkan positivisme hanya membuat ilmuwan buta akan kepentingan sesungguhnya yang mendasari suatu penelitian ilmiah. Kebutaan tersebut membuat dominasi teknologi semakin menjadi-jadi. Persoalan etis yang ditimbulkan oleh teknologi berupa pencemaran lingkungan, aborsi, kloning menjadi terabaikan. Kaidah-kaidah moral agama menjadi terabaikan. Diktum para ilmuwan positivistik adalah "apa yang bisa dilakukan, boleh dilakukan!"

Adapun relasi ilmu pengetahuan dengan kepentingan dari Habermas adalah sebagai berikut. Pertama, ilmu-ilmu empiris analitis (ilmu-ilmu alam) bertujuan mencari hukum alam yang pasti. Kepentingannya adalah penguasaan alam atau kepentingan kontrol teknis. Kedua, ilmu-ilmu historis hermeneutis (ilmu sastra-sejarah) bertujuan untuk mengungkapkan makna, sedangkan kepentingannya adalah perluasan subyektif dan komunikasi intersubyektif. Ketiga, ilmu-ilmu tindakan (politik, sosiologi, filsafat, kritik ideologi) bertujuan untuk mencapai kehidupan manusiawi yang lebih baik, sedangkan kepentingannya adalah untuk pembebasan emansipatoris.[4]

Tesis keempat menjawab bahwa perlu ada revisi teologis yang dianggap bertentangan dengan hasil penemuan sains. Muhammad Iqbal menempati posisi ini. Iqbal melakukan rekonstruksi teologi Islam. Rekonstruksi bagi Iqbal adalah semacam metodologi yang membuka ruang bagi penyesuaian dengan perubahan-salah satunya adalah perubahan dalam pengetahuan kita termasuk sains-demi penciptaan teologi yang lebih sesuai dengan semangat zamannya. Iqbal insaf bahwa dengan proyek ini justru dia memikul risiko bahwa pada zaman tertentu, bisa jadi teologi yang dirumuskannya menjadi teologi basi bagi generasi selanjutnya yang harus direkonstruksi kembali. Hal ini dikritik oleh Fazlur Rahman, bahwa pada masanya, filsafat Iqbal terlalu "sesuai dengan zamannya" sehingga kini, dia menjadi "ketinggalan zaman". Namun bagi Iqbal, ini hanya berarti bahwa pemikiran manusia tidak pernah mencapai titik final, dan oleh karena itu, rekonstruksi adalah proses tanpa henti.

Tesis kelima menjawab bahwa sains dan agama saling membenarkan dan saling berintegrasi. Ian G Barbour bersikukuh dalam posisi ini. Dengan theology of nature ia mengatakan bahwa bagaimana alam dipahami oleh sains selalu berkaitan dengan bagaimana Tuhan dipahami oleh pengalaman religius dari komunitas kaum beriman di dalam sejarah. Dia percaya bahwa kita harus bersikap terbuka terhadap perumusan-ulang doktrin-doktrin tradisional dengan bantuan sains, tetapi diletakkan dalam konteks komunitas kaum beriman. Dalam teologi ini sains dan kita suci atau doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap valid dan sama-sama menjadi sumber bagi suatu pandangan-dunia yang koheren untuk kaum beriman.

Ada dua tahapan menurut Barbour, pertama, kebenaran sains dan agama diasumsikan terlebih dahulu. Baru kemudian tahap kedua adalah proses penafsiran. Untuk mendapatkan penafsiran yang baik inilah hasil-hasil sains ikut dipertimbangkan. Jadi bisa dikatakan bahwa doktrin-doktrin agama ataupun teori-teori sains dianggap sebagai bahan mentah, yang melalui proses penafsiran kemudian dikembangkan menjadi metafisika atau pandangan-dunia yang koheren.

Dengan membagi empat fase hubungan agama dan sains Barbour optimis bahwa sains selalu menuju ke arah kemajuan, dan itu berarti bahwa sains dan agama akan berintegrasi. Empat pemetaan relasi agama dan sain itu adalah: pertama, fase konflik dimana sains dan agama saling bertentangan. Kedua, fase independensi, dimana sains dan agama dipandang sebagai dua domain independen dan berada pada domain yang berbeda. Ketiga, fase dialog, yaitu mempertimbangkan sains dan agama yang dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Keempat, fase integrasi, dimana terdapat penyatuan antara ilmu dan agama.[5]

Dari beberapa tesis di atas dimanakah posisi kita? Adanya proyek islamisasi dan sains Islam (Islamic Science) adalah respon dari hal di atas. Yaitu berkenaan dengan pertanyaan yang penulis ajukan dalam makalah ini; kalaulah alam ini adalah ciptaan Tuhan dan agama adalah tuntunannya, mengapa sains yang dianggap sebagai representasi kebenaran terbaik alam ini bertabrakan dengan kebenaran universal yang di turunkan langsung oleh Tuhan berupa agama? Tentu persoalannya tidak sesederhana apa yang kita bayangkan.

Pertama, yang sering berseberangan adalah tafsiran materialistik-ateistik atas sains vis a vis tafsiran teistik. Jadi sekali yang merupakan persoalan utama disini adalah penafsiran atas pengetahuan ilmiah, dan bukan sains itu sendiri yang justru harus diseap oleh kita. Kalau kemudian dikatakan bahwa sains adalah aktivitas yang tak bebas nilai. Maka menurut Mehdi Golshani pelibatan nilai-nilai Islam itulah yang menghasilkan sains Islam.

Oleh karena itu tugas yang menantang kita ke depan adalah bagaimana memodifikasi tafsiran filosofis atas teori ilmiah ataupun dengan merevisi teologi. Tugas ini mengingatkan kita akan usaha mendamaikan perseteruan Al-Ghazali dengan bukunya tahafut al-falasifah yang lebih menekankan aspek teologis, dengan Ibn Rusyd dengan bukunya tahafut al-tahafut yang lebih menekankan aspek ilmiah-filosofis. Sulit memang mempertemukan keduanya jika mendasarkan pada postulat Einstein bahwa "ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh dan menggabungkan keduanya akan menghasilkan sesuatu yang buta lagi lumpuh."

Menurut hemat penulis dalam mendamaikan keduanya dibutuhkan paradigma holistik, yaitu menuntut kesepaduan pengamatan empiris, pemikiran rasional, dan pengalaman spiritual. Ketiganya menurut Armahedi Mahzar memiliki kesepaduan paradigmatik dalam dua ranah; teoretis dan praktis.[6] Kesepaduan teoretis menyatukan al-ilm, al-hikmah, al-kitab atau sains-filsafat-agama (QS. An-Nisa':113). Sedangkan kesepaduan praktis adalah al-kitab, al-huda, dan al-ilm atau agama-etika-teknologi (QS. Luqman:20).

Memang, sebagaimana tesis Fritjof Capra dalam Tao of Physics-nya, ia menegaskan bahwa sedari awal sains, filsafat dan agama adalam merupakan triumvirat atau tritunggal yang tak terpisahkan. Fritjof Capra[7] dalam Tao of Physics berusaha menyingkap relasi konsep-konsep dasar fisika modern dengan tradisi-tradisi filsafat dan religius Timur Jauh (filsafat religius Hinduisme, Budhisme, dan Taoisme). Argumentasi dari buku ini adalah untuk mengukuhkan koinsidensi bahwa pada akhirnya fisika modern menuntun kita pada satu semesta pandangan dunia yang serupa dengan pandangan-pandangan yang dianut oleh para sufi di seluruh masa dan tradisi.[8]

Dalam melukiskan perkembangan mutakhir sains yang mulai menapaki fase integrasi, Capra menulis:

Saat ini, fisika menuntun kita ke sebuah pandangan dunia yang secara esensial bersifat mistik, dalam satu hal, ini berarti bahwa ia telah kembali ke permulaannya pada sekitar dua ribu lima ratus tahun silam. Memang menarik mengikuti evolusi sains Barat bersamaan dengan jalan setapak spiritualnya; mula-mula dari filsafat mistik Yunani awal, lalu muncul dan membesar lewat satu perkembangan yang impresif dari pemikiran intelektual yang makin lama makin berpaling dari genealogi mistiknya dengan mengembangkan satu pandangan dunia yang amat kontras dengan pandangan Timur jauh. Pada taraf klimaks, sains Barat akhirnya menghampiri pandangan ini dan kembali kepada pandangan-pandangan Ynani awal dan Filsafat Timur. Meskipun demikian, saat ini hal itu tidak hanya berdasarkan intuisi tetapi juga berdasarkan eksperimen-eksperimen tentang kebenaran dan kesempurnaan agung serta formalisme matematika yang kaku dan konsisten.[9]

Disamping itu Capra menjelaskan bahwa elemen-elemen dasar dari pandangan dunia Timur (pemikiran mistik) juga merupakan elemen-elemen pandangan dunia dari fisika modern. Bahwa pemikiran Timur memberikan sebuah latar belakang filosofis yang konsisten dan relevan dengan teori-teori sains kontemporer; sebuah konsepsi tentang dunia yang di dalamnya penemuan-penemuan sains berada dalam harmoni sempurna dengan tujuan-tujuan spiritual dan keyakinan-keyakinan religius.

Dengan demikian buku yang ditulis oleh Capra ini bertujuan mengangkat citra sains dengan memperlihatkan bahwa terdapat sebuah harmoni yang par excellence antara ruh kebijaksanaan Timur dan sains Barat. Buku ini membuktikan bahwa fisika modern telah melangkah di luar jangkauan teknologi. Ungkapan menarik dari Capra adalah bahwa jalan fisika dapat menjadi jalan setapak yang memiliki nurani, sebuah jalan menuju pengetahuan spiritual dan penyadaran diri.[10] Dus, belajar dari Capra, kita bisa menepis pesimisme dari Huston Smith dan bisa memaknai sains dalam keberagamaan serta menemukan wajah agama di tengah kedigdayaan sains. Wallahua'lam.



[1] Huston Smith, Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit in an Age of Disbelief, New York: HarperSanFrancisco, 2001.

[2] Hanna Djumhana Bastaman, Islamisasi Pengetahuan dengan psikologi sebagai Ilustrasi, dalam Ulumul Qur'an nomor 8 tahun 1991.

[3] Lihat Donny Gahral Adian, Menyoal Obyektivisme Ilmu Pengetahuan dari David Hume sampai Thomas Kuhn, Jakarta Selatan: Teraju, 2002. hal. 68.

[4] Donny Gahral Adian, Op. Cit, hal. 93.

[5] Untuk lebih jelasnya lihat Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama (When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or Partners?), Bandung: Mizan, 2002. hal. 40-42.

[6] Armahedi Mahzar "Menuju Islamisasi Paradigma Sains Posmodern" dalam pengantar buku Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003. hal. Xxix.

[7] Fritjof Capra, Tao of physics; Menyingkap Paralelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur, Yogyakarta: Jalasutra, 2001.

[8] Ibid., hal. 6.

[9] Ibid., hal. 6-7.

[10] Ibid., hal. 15.



By :
S. Qudsi

No comments: